Selasa, 12 Juni 2012

Afternoon Date






Senja itu aku dan Danti mengunjungi pameran ilustrasi di Galeri Padi. setiba disana suasana sepi, wajar saja. hari itu bukan hari pembukaan pameran justru tinggal beberapa hari tersisa. setelah senyum ramah pada penjaga di depan, kami dipersilahkan masuk. rupanya ilustrasi yang ditampilkan tidak begitu banyak namun cukup menghiasi semua sisi ruangan. sepertinya satu artis memberikan 2 buah ilustrasinya. aku mengagumi hampir kesemuanya. ada yang menggunakan pensil, cetak diatas kertas hingga menggambar di post it! aku dan Danti berputar dalam ruang menikmati satu karya dan lainnya. membaca kurasi yang terpampang di pintu masuk, menilik isi buku tamu (ternyata cukup banyak yang datang, mungkin di hari pembukaan pameran). setelah puas kami mengunjungi Selasar Sunaryo yang sialnya kami datang pada hari Senin dan ternyata tutup :( baiklah 'kencan sore' kami pun berlanjut ke destinasi impulsif yang secara tetiba kuusulkan. kemanakah? 

 'kita ke Kineruku yuk Dan?'
'kamu belum, Fan?'
'belum, gak pernah ada teman kesana (alasan :p haha)
'oke yuk kesana sambil tunggu jemput ibuku'
berangkatlah kita ke Kineruku :) Yeay!

Lewat ciumbuleuit ternyata kita, masuk ke perumahan asri yang rumahnya besar dengan taman di depan. Sejuk deh, kalau sepedahan kayanya seru. Sayang jalanannya bikin betis cekot-cekot kalo sepedahan disana. Nanjak semua! Lalu mobil masuk ke sebuah rumah yang dari luar terlihat agak tua khas rumah ‘jadul’ di Bandung. Di muka rumah ada papan bertuliskan ‘Kineruku’. Rupanya ada sebuah lampu seperti sirine sebagai penanda dan pembeda dari rumah – rumah lainnya. Biar gak tertukar dengan rumah tetangga kali yah, hehe. 

Aku lalu mengajak Danti mampir ke Garasi Opa yang terletak disebelah Kineruku. Benar – benar di garasi loh. Tapi tentu sudah dimodifikasi, disulap menjadi sebuat tempat penuh barang –barang antik nan menarik. Yang mencuriperhatianku adalah sebuah telepon kuno, lampu sign Nyonya Meneer berwarna kuning, artwork jadul berbingkai untuk hiasan dinding dan tentu saja kacamata vintage! Puas menikmati atmosfer nostalgia di Garasi Opa, kami melangkah masuk ke Kineruku.




Whoa! Aku beru pernah kesana dan langsung jatuh cinta. Seraya mengutuki diri kenapa tidak dari dulu kesini. Selain kendala transportasi sepertinya tidak ada yang membuat aku berpikir dua kali untuk tidak mengunjungi tempat ini. Buku – buku yang beragam, suasana homey dan hamparan rumput beratapkan langit cerah sore di halaman belakang seperti menyihirku. Tak bosan aku berkeliling dari satu rak buku ke rak lainnya untuk menyentuh buku – buku yang berjejer rapi disana dengan ujung jari telunjukku. Terpekik tertahan saat menemukan buku –buku yang selama ini aku cari dan kemudian bingung setengah mati ketika Danti menawariku untuk meminjam salah satu buku disana menggunakan kartu anggotanya. 

Danti dengan sabar membantuku memilih buku dan memberikan rekomendasi buku-buku bagus yang pernah dipinjamnya disana. Ketika menemukan satu deret biografi Soekarno, Moh Hatta, dan Tan Malaka hatiku kembali gamang. “Bisa nggak adil nih kalau aku cuma pinjam biografi Tan Malaka dan yang lain tidak”, pikirku. Belum lagi aku menemukan buku “Kuantar Kau ke Pintu Gerbang” Kisah Cinta Bung Karno dan Ibu Inggit. Makin pusinglah kepalaku. Lalu teringat sahabatku, Guri, pernah merekomendasikan sebuah buku yang masih kusimpan catatannya di ponselku. 

“Larutan Senja” oleh Ratih Kumala. Baiklah kucoba cari. Ternyata buku Ratih Kumala yang ada hanya satu buah. Berjudul “Tabula Rasa”. Kubalik beberapa halaman awalnya. Menarik, pikirku. Maka aku meminjam buku itu (pada akhirnya) dan Danti meminjam sebuah buku berbahasa Inggris tentang Road Trip. 

Saat aku berkeliling disana, aku berjumpa dengan Mba Theo, kemudian kami berbincang sebentar. Rupanya kata Danti, spot tadi tempat Mba Theo duduk menghadap taman adalah tempat favoritnya tiap ke Kineruku. “dia pernah nge-twit tentang spot itu, Fan”. Wah pantas saja, nyaman sekali sepertinya, hehe. 





Saat membayar buku pinjaman di kasir, aku menggumam kecil mengikuti lantunan Mayer Hawthore dan Payung Teduh yang kebetulan ter shuffle di laptop meja kasir. Sedikit iseng kucari kartu pos di deretan CD music, hingga kutanya pada Mba penjaga kasir (yang cantik sekali seperti Tessa J ) apa mereka jual kartupos. Ternyata ada! tapi dibundel dan berisi beberapa kartu di dalamnya. Oke boleh juga untuk referensi beli kartu selain di Reading Lights, walaupun kuakui di Reading Lights koleksinya lebih banyak pilihan, hehe. 

Maka setelah menenteng buku di tangan aku dan Danti meninggalkan Kineruku untuk menjemput ibu Danti. Sungguh sore yang menyenangkan, tidak hujan dan angin berhembus pelan. Terima kasih Danti atas ‘kencan sore’ nya dan sampai berjumpa lagi, Rumah Buku! 



1 komentar:

  1. terimakasih yaa udah bikin rangkuman singkat kesana.
    lagi cari buku Tan Malaka soalnya, lagi kosong terus stoknya di toko buku hiks

    BalasHapus