Selasa, 24 Maret 2015

My Awakening Moment

Jadilah tanggal 15 Maret 2015 kemarin akhirnya TEDxBandung bangkit dari tidur panjangnya. Setelah terakhir conference di tahun 2012 dan Mini Event Ngariung di 2014 maka 2015 jadi jejak rekam baru untuk organisasi non profit yang telah memberikan saya banyak arti ini.

Sempat menyesal sih kenapa gak nerusin nulis blog secara rutin. Karenanya semua yang terlewat saya coba rangkum ya sedikit. Berawal dari kegelisahan pribadi saya, menghadapi kenyataan ketika urgensi kehadiran TEDxBandung untuk kembali ke khalayaknya, menjadi rancu. Antara perlu tetap ada atau tidak. Disitu kemudian saya yang entah darimana punya keberanian dan self esteem yang berlebih, beranggapan saya pasti bisa. Bisa bagi waktu dan mengumpulkan teman teman yang masih tersisa. Untuk kemudian sekitar 3 bulan yang lalu, tepatnya di akhir 2014 berkumpul untuk menggodok konsep ‘regenerasi’ dan acara. Yep, sedikit nekat sih mengingat anggota atau organizer baru saja belum ada tapi sudah mulai merencanakan kegiatan.

Dibantu Dewa, Fauzan, Freddy, Alfi, Cika dan Ocha waktu itu kita sepakat akan melakukan rekrutmen secara beriringan dengan pematangan acara perdana, dimana kita bantu rumuskan sekitar 50%. Which is sudah ada line up speaker, perkiraan tanggal dan prospek venue. Inti dari unsur acara lah pokoknya. Kemudian ada Evan dan Sabiq juga yang ikut membantu design dan proses rekrutmen. Setelah penutupan agenda rekrutmen, keseruan kita dimulai. Ternyata yang antusias mau bergabung di TEDxBandung yang saya kira sudah kurang peminatnya ini, mencapai 73 applicants. Whoaaa jadi pe er lucu tersendiri lagi buat kita team awal bagi – bagi tugas seleksi mereka sampai akhirnya menjadi sekitar 23 orang. Memang masih banyak yaa tapi kita gak tega nge cut nya, semua Nampak gemilang. Hahaha.

Setelah first meet up di Simpul Space #3 dan bagi – bagi divisi, dimulaikah proses untuk merealisasikan event Ngariung selanjutnya. Gak langsung conference soalnya biar organizer baru belajar mengenal konsep acara TEDxBandung yang lumayan unik ini hehe. Sempat sih saya tiap hari rata rata baca 6 grup chat untuk memastikan semua divisi terkoordinasi. Sampe colongan juga pagi sore baca email soal report-an anak team untuk keperluan ini itu. Bantuin approach sponsor juga yang Alhamdulillah sebagian besar sahabat, teman, idola saya. Eh mereka mau bantuin TEDxBandung dan support produk mereka yang keren – keren. Ada Sahl Goods, Eskimomo, Batagor Hanimun, Puro, TRF Homade, Niion, Mizan, Empingin, DAPP. Wuiih plus Alhamdulillah nya anak sponsor yang dikepalai Alfi, Icha, Tiara dkk berhasil bantuin dapetin fresh money. Anak – anak Event Organizer juga aktif banget bantuin buat rundown, ngelengkapin logistic sampe kena drama seleksi applicant audience yang ;nyentuh’ angka 500 lebih Cuma dalam 3 hari open registration. Anak Art & Visual yang dasarnya sibuk juga berhasil buat media promosi dan poster yang sesuai sama yang saya arahkan. Anak Story Teller juga peran andil dalam mempublikasikan acara kita makanya sampai well known dan membludak si pesertanya. Keren banget sama usaha mereka approach media partner cetak dan elektronik. Belum lagi anak Curator yang bersedia jadi sahabat buat para speakernya, sekaligus harus professional membantu speaker menuangkan ideas yang mereka punya dalam 18 menit talks saja. Selebihnya team AV Tech yang sukses menampilkan semua slide speaker kita dan mendokumentasikan video talks speaker.

Saya ngapain ya? Ah saya Cuma mengumpulkan teman – teman hebat ini untuk mengenal kultur TEDxBandung dan membuat keluarga TEDxBandung tetap ada. Buktinya, founder dan former organizer juga datang untuk support acara TEDxBandung plus kasih sesi kenalan dan sharing di waktu evaluasi singkat. Radix, Puput, mas Febri, Kiran, Arfan, Dian, Hani juga kasih apresiasi ke teman – teman organizer baru dan gak segan untuk membuka kesempatan sharing lagi. Oia Bu Tita sebagai former speaker yang setia membantu TEDxBandung juga Alhamdulillah bisa datang dan hadir sampai acara selesai. Terharu sekaliii. Dan ada special moment juga buat saya. Dono special hadir untuk mendampingi pacarnya yang gak bisa diam ini. Dia bilang ‘masa aku gak datang di acara keren yang dibuat sama pacar aku sendiri’ Duh, bisa gak anak satu ini selalu dalam lindungan dan kebahagiaan. Baik sekali loh dia sepanjang acara bikin saya bisa sedikit calm down, gak masalah ditinggal kesana kemari dan bisa kasih fair feedback dari sisi audience.

Nah, sekarang tantangan terbesar TEDxBandung dimulai. After event effect. Masih banyak antusiasme yang belum tertampung di Ngariung kemarin ditambah kemudahan sistem kolaborasi dari co&Co working space bikin kita ditanya balik, sanggup gak bikin acara rutin disana? Waa saya pribadi sih jadi super excited karena trust orang orang untuk jadi bagian dari TEDxBandung masih ada. Semoga saya bisa menjawab tantangan untuk diri daya sendiri. Tantangan utnuk terus keeping up the spirit team dan selalu punya kerinduan untuk bisa buat acara TEDxBandung selanjutnya tetap dijaga. Balik lagi ke awal, titik awakening yang sudah dibuat diharapkan bisa berkelanjutan dan terus ada dengan sistem yang terus diperbaiki.

Sekali lagi terima kasih banyak atas doa, harapan dan kepercayaannya untuk TEDxBandung

Best Regards,

















Minggu, 04 Mei 2014

#2 Pras

Lekat – lekat saya memandang keluar. Pemandangan dari dalam mobil travel yang membawanya ke Jakarta, tempat kelahiran saya, masih sama. Masih membuat lamunannya memutar rekaman kejadian seminggu yang lalu. 

-----
Dua cangkir bermotif garis biru muda muncul dengan asap tipis mengebul ke udara. Sang pemilik gelas – gelas berisikan teh peach tersebut masih sibuk menata kalimat dalam hati. Backsound toko buku kegemaran Pras dan Jingga seolah tahu apa suasana yang tepat untuk mereka.

Ada yang tak sempat tergambarkan.
Oleh kata ketika kita berdua.
Hanya aku yang bisa bertanya, mungkinkah kau tau jawabnya.
Malam jadi saksinya kita berdua diantara kata yang tak terucap.
Berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban.
Mungkinkah kita ada kesempatan.
Payung Teduh – Berdua Saja

Jingga akhirnya membuka percakapan, “Maaf tempo hari di kolam renang ya Mas Pras.”
“Pras sajalah, Jingga. Saya tidak mau terdengar lebih tua dari kamu. Ya hanya dua tahun lagipula.”

Saya mengeluarkan sebuah buku dengan sampul plastik dari dalam ransel untuk kemudian saya sodorkan kepada Jingga.

“Ini yang saya ceritakan di sms kemarin, semoga bisa jadi referensi ya.”

Sambil mengambil gelas teh, saya melirik kearah Jingga yang langsung sibuk membuka halaman demi halaman. Diantara riuh rendah suasana kafe saya mendengar langkah kaki yang saya hapal betul. Citra menghampiri perlahan. Dengan santai wanita muda cantik dan langsing itu mendaratkan ciuman ringan di pipi saya. Rupanya kebiasaan Citra belum berubah. Sekilas saya lihat Jingga terhenyak pelan melihat pemandangan yang asing buatnya. 

“Emang dikira disini LA apa? Main cium cium pipi orang. Huh” Begitu isi hati Jingga, namun yang dilakukannya adalah meneguk teh peach tanpa meniupnya terlebih dahulu.
“Auch. Panas.. “ Jingga menjulurkan lidahnya. 

Pemandangan yang juga sangat langka untuk saya. Saya mempersilahkan Citra duduk bergabung.

“Jingga, kenalkan ini Citra. Teman lama saya sewaktu ikut ayah tugas ke Riau. Sekarang Citra sudah semester akhir di fakultas Komunikasi.”

“Hallo Jingga ya? Wait, kayaknya kita pernah ketemu di kampus deh. Acara ulang tahun kampus beberapa minggu lalu. Kamu dan teman – teman mu buka stand untuk mengumpulkan buku bekas ya?”

Jingga polos mengangguk. Wah selain cantik, si Citra ini rupanya ngenalin sosok gue. Gak misterius lagi deh. Tentu saja itu semua diucapkan Jingga dalam hati.

“Okay, jadi karena kalian satu kampus jadi saya gak perlu repot repot mengakrabkan kalian ya.” Sedikit tersenyum nakal Pras membuat kesimpulan.

Adegan selanjutnya bisa ditebak. Citra hampir mengambil alih obrolan Jingga dan Pras yang tadinya kaku jadi semarak bak taman kota di sore hari. 

Empat puluh menit kemudian Jingga mendapat pesan singkat dari Banyu, abangnya. “Pras, Citra. Such a nice afternoon with you two. Tapi aku harus pergi. Baru ingat ada janji sama Mas Banyu. Is it OK?”

Pras nampak cukup kaget terlebih dalam hatinya ia masih ingin berada dekat orang – orang yang bisa membuatnya sedikit lebih ‘hangat’ dan bebas mengekspresikan dirinya. Citra, si sahabat lama yang menyenangkan dan Jingga, si mungil yang selalu membuat Pras penasaran.

“Ada sesuatu yang urgent kah? Mari saya antar. Gak apa kalau naik motor?”

Citra yang datang naik taksi juga cukup mandiri untuk pulang sendiri. “Aku gak apa Pras, habis ini juga ada janji sama temanku di taman. Darren kamu masih inget kan? Dia minta aku jadi talent untuk line tas nya yang baru. Kamu antar Jingga saja.” Sambil tersenyum Citra, menoleh ke Jingga.

Aduh aku jadi nggak enak nih, batin Jingga dalam hati. Tapi diantar sama Pras juga aku susah nolak sih. Haha. 

Setelah berpisah, Jingga yang sekarang duduk di boncengan motor Pras mencoba menikmati momen penuh kejutan ini. Diatas kepalanya mulai muncul semburat warna keemasan. Ya warna jingga khas datanganya sang sore. 

“Syukurlah masih cerah”, gumam Jingga perlahan. “Ya, kenapa Jingga?”, suara Pras yang datar bercampur dengan deru angin. “Hmm, nggak kok Pras. Kita sudah dekat. Di depan belok kanan ya.”

Pras mengikuti langkah kaki Jingga masuk ke sebuah pemakaman umum. Tampak dari jauh Mas Banyu dan Tita pacarnya menyambut kedatangan mereka. “Mas, sori ya gue telat. Kalau gak baca sms kayaknya bablas. Makin pikun aja nih hehe. Yuk Mas, kita mulai.”

Bebas dari kesan duka cita dan kelam, keluarga kecil ini kemudian berkumpul mengelilingi sebuah makam yang terawat rapi, nisan yang berwarna marmer krem. Disitu tertulis, Sekar Ardiwilaga. Pras menutup mata dan mengamini setiap doa yang terucap.

-----
Mobil travel sudah berhenti di poolnya. Kawasan Sarinah, Thamrin. Hawa panas sapaan khas ibukota tak ayal menimbulkan titik titik air di dahi dan sela rambut gondrong Pras yang sudah mencapai bahu. Dengan cepat ia mengetik pesan singkat di handphone. Datanglah balasan berbunyi “Iya, gue lima menit lagi sampai. OTW bro, oke-tungguan-weh. Haha” Pras berjanji akan meninju lengan Reza ketika nanti ia sampai.

Mata yang menghilang ketika tertawa lebar itu makin menghilang ketika melihat Pras merengut di pool travel yang hanya berhiaskan kipas angin tua. “Aduh, bapak seniman kita kepanasan ya? Nanti aku beliin teh botol deh”. Pras menghampirinya dan seperti janjinya tadi.. “ADUH! Galak amat lo. Udara Jakarta bikin lo gampang dendam ya” misah misuh Reza mengelus lengannya yang diberi ‘sapaan tinju mesra ‘ oleh Pras. 

Mereka berdua berjalan menuju Galeri yang tak jauh dari sana. 


Selasa, 15 April 2014

Happy Birthday Dear Gem!

Posting ini dibuat setelah aku seharian judulnya aja ambil day off. Tapi ujung ujungnya pissed off karena ga bisa istirahat. Cuma kamu Gem yang ngerti betapa stress nya aku di 'last days' ini (love you!)

Anyway.
Aku mau review dulu sedikit (padahal gak yakin sih bakal sedikit..) the very virst time we met!

Aku yang masih cupu banget awal jadi sales hotel, hari itu berniat ketemu klien aku Mas Imam. Sedikit celingak celinguk naik ke bagian Bea Cukai di Gedung Keuangan Negara.
'Pak, saya dari hotel. Mau ketemu Pak Imam ada?' tanya saya kepada bapak muda berseragam biru gelap nan mirip satpam (tapi lengkap dengan pangkat dan emblem nya)
'Oh dari hotel, Mbak? Bentar ya' Si bapak menoleh ke dalam ruangan dan memanggil seorang pemuda, 'Don, nih ada dari hotel nyari Mas Imam sini deh temuin dulu' (ya kira kira gitu ya Gem, awas lu jangan protes kalo gue salah. Haha)

TADAAAAAAA
Keluarlah sesosok kakak kelas yang dulu cuma sebatas oh-iya-tau-soalnya-temen-se gank-mantannya-pina
Untungnya emang aku punya kontak BBM si kakak kelas ini. Jadilah hapal namanya
'LHO KOK KAKAK ADA DISINI?'
*kapital soalnya kaget, excited dan genit nyampur jadi satu* *haha*
'Iya, kan gue emang kerja disini' (sumpah suara kamu Gem yang kalimat itu doang tapi bikin hati dag dig dug)

Nah abis itu si kakak kelas nan baik hati mengantar kita ke ruang tamu dan finally aku juga ga ketemu sama si Mas Imam karena beliau lagi diluar kantor. Entah aku yang norak atau gimana ya. Tapi langsung mikir kok si kaka yang pas SMA ini biasa aja, kurus, kacamataan, item (haha sori Gem, aku juga sih) sekarang bertrasform jadi mas mas seragaman, suaranya bagus (masih mikir suaranya bagus karna mantan rapper tingkat pensi ultah sekolah), helpful dan cukup cool sih.

Beres salescall kesana, jadi ada deh rutinitas baru. Nelpon iseng tapi makan durasi berjam jam si kakak kelas berseragam. Dan akhirnya kita ketemu lagi. Aku rada 'maksa' ketemuan dan si kak Dono ini ngajak nemenin cari kado buat anak seniornya dia di kantor. Oia, nama si kakak tuh Dono Raharjo. Kalau di nametag seragam bisa D.Raharjo, Dono Raharjo atau Dono. R. Pleksibel

Lucu deh awal awal masih suka ngomentarin how we first met moment tadi. Mungkin buat para pembaca hal ini tidak terlalu penting. Tapi percayalah the first moment you met the one you love will be prescious and magical. 

And time flies sampai kita sekarang masuk bulan ke delapan.
Ga ngerti lagi betapa kamu udah berpengaruh banyak dan besar buat hidup aku, Gem.
Kamu yang tegas tapi gak galak dan gak pernah marah
Membiarkan aku sedikit demi sedikit buat belajar ngenal keluarga kamu yang super ramah & menyenangkan
Bikin aku belajar suka sama anak kecil 
Nerima aku apa adanya tapi tetap gak lupa ngingetin aku soal kebiasaan jelek aku
Mau masuk ke keluarga aku dan belajar makan rendang (yang padahal gak pedes tuh, Gem. Woo)
Rela jemput aku pulang kerja, walau nunggu berjam jam di basement hotel.
dan sederet kebaikan kamu yang walau aku gak tulis disini pasti pernah aku berkati syukuri dalam hati (mungkin sekalian pamerin ke papah mamah).

Dan sekaligus tulisan ini jadi tulisan pertama aku sejak Papah gak ada, aku berharap kamu masih mau jagain aku. Mungkin Papah udah bisa ikhlas ninggalin aku, Pina, Mamah karena dia tau aku udah safely around you, Gem.

Semangat terus ya Gem buat nyelesain kuliahnya. I'm so proud of you ketika masih sibuk kerja tapi bisa belajar baik dan lulus ujian untuk lanjutin kuliah lagi.  Padahal pas nyari buku soal santai - santai aja kamu trus kalau udah mumet belajar malah maunya nelepon aku. But you made it!

Kamu juga udah jadi top three employee di kantor, nyainingin aku yang employee of the quarter dan nyimpen kabar itu karena nunggu pengumuman employee of the quarter aku dulu. You really want to share the joy with me and makes it double of joy!

Kamu juga udah mau ngenalin aku ke gank kamu yang tersohor itu (haha) bahkan our last trip with your friends is soo much fun walau kita terjebak traffic 11 jam aja dari puncak- jakarta. Itu semua terbayar dengan aku sekarang bisa lebih kenal sama Dena, Reggie, Hani dan Ka Qisthi. Kamu gak tau aja jaman pertama kali meet up sama mereka aku nervous banget dan malah jadi super quite di meja sushi itu. Haha

Kamu dan tipe family man kamu itu yang bikin aku makin beruntung. Gak ngerti lagi aku senengnya bisa diterima dan disambut baik sama Mamah, Bapa, Mba Orin - Mas Dhani - Dede Rayi, Mas Uli - Mba Ajeng - Kaka Anya. Padahal pertama kali ketemu aku juga masih canggung masuk ke keluarga besar kamu dimana aku pun sama saudara sendiri kadang masih cuek dan gak terlalu akrab.

Aku yakin kamu bisa mencapai planning kamu yang gak pernah bosen aku bahas setiap kita telepon. Dan aku harap aku bisa jadi bagian dalam fase fase penting di hidup kamu selanjutnya.
Masih suka ketawa deh dalam hati kalo inget adegan di dalam mobil lewatin Selaras. Ada kamu, aku , Papah Mamah kamu dan kamu santai nyeletuk 'Mah aku pengen disini nih nanti tempatnya' dan si Mamah pun bingung 'Tempat apa dek?' 'Tempat nikahnya Mah'....
Dududuu seraya pemandangan di luar kaca mobil jadi menarik banget ketika kamu nyeplos cita cita itu.Hopefully ya Gem. Doa mah boleh aja ya aku kan ngarep anaknya :p

Gem makasih ya kamu udah jadi penguat di hari hari aku, tempat cerita semua hal yang selalu bisa calm down in aku yang panikan ini. Semoga hari hari berikutnya di umur kamu yang dalam hitungan jam kedepan bertambah bisa bikin kamu makin dewasa dan memberi arti untuk orang - orang di sekitar kamu.
Jaga kesehatan juga, jangan mau nemenin aku ke tempat aneh aneh lagi sampe kakinya keseleo. Haha

Selamat ulang tahun ya Gemgem sayang. Demikian surat terbuka ini aku sampaikan.
Always proud of you and love you much much more everyday.
Happy being 25 and stay fabulous!
Muaach xoxo

Lots of love,
Fanni

Sabtu, 08 Februari 2014

How about this?


We're going to a fruit store, i pick something for you and so did you?
We're going to a flower shop, i pick something for you and so did you?
We're going to a dvd store (movie room),  i pick something for you and so did you?
We're going to a cake / ice cream store,  i pick something for you and so did you?
We're going to book store, i pick something for you and so did you?
We're going to Museum, i pick something for you to read out lout and so did you?  
We're going to a nice quite park, i wrote a small nice poet for you and so did you?
We're going to a second hand-market, i pick something for you and so did you?
We're going to zoo, i draw something for you and so did you?
We're going to post office, i write quick love letter and simply send it for you and so did you?
We're going to buy a frame photo, i put our favourite photo for you and so did you?
We're going to just sit, sipping tea, i pick something for you to listen and so did you?

Well, that's a dare, dear..

Missing you much, so don't you missed me too? xoxo

Sabtu, 01 Februari 2014

Adalah pengantar 2014

Postingan terakhir tercatat di bulan September 2013?
Well, sebuah tidur panjang yang membuat saya satu jam mencoba meyakinkan diri sendiri untuk akhirnya memencet keyboard komputer kembali. Dengan kondisi belum mandi, dan diburu waktu untuk bersiap kumpul TEDxBandung sore ini.

Mulai darimana kita?
Saya masih Fanni yang sama, selalu lemah pada pilihan namun luckily dikelilingi orang-orang dan keberuntungan yang membuat saya cukup bahagia walau selalu hampir menyerah pada pekerjaan.
Sekarang saya sudah pindah tempat kerja. Masih terbersit menuliskan kisah bekerja saya selama tahun pertama yang dengan norak selalu saya anggap menarik walau penuh drama. Mungkin tulisan terpisah bisa saya persiapkan untuk membahas kehidupan Sales Hotel yang sebenarnya itu - itu saja tapi tekanannya wassalam.

Saya juga mengalami sedikit naik turun fase ketika Papah masuk rumah sakit di akhir tahun 2013 kemarin, yang membuat sekarang Finna harus nge kost demi bisa (sedikit lebih mandiri) berangkat ngantor sendiri. Saya pun akhirnya bisa bangun lebih awal demi nebeng berangkat dengan sepupu di pukul tujuh setiap harinya. Sedihnya, kami kehilangan rutinitas mandi bareng dan curhat sampai diomelin si mamah untuk waktu yang belum ditentukan. Setelah papah agak sehat, saya jadi makin berusaha legowo bahwa kerja bisa dimana saja. Untuk mengejar karier di jakarta pasti nanti ada saatnya. Toh, lambat laun keinginan untuk membuat usaha makin menjadi, ataupun bekerja di tempat yang sesuai dengan 'passion' saya. Haha, banyak ruang nanti untuk kaitan pekerjaan -- passion.

Percintaan?
Harus diakui nama besar blog duodynamic (please maafkan kepedean berlebih ini) didalamnya turut andil kisah percintaan saya yang (mungkin) sedikit menarik. Atau saya membuatnya terlihat menarik (walaupun jarang yang baca). Setiap ada teman yang noticed tentang blog ini, saya akan berdalih "Ah, isinya kan curhat curhat doang.."
Well, that's true. Curhat curhatan pribadi yang kalau dibaca kembali jadi bikin lamunan bertebaran di atas kepala. Ingin juga sih melanjutkan Cerpen ala - ala saya atau menulis review.
 
Bersyukur blog ini ada, dan akhirnya bisa terisi lagi ketika saya selalu gagal berusaha menulis di diary dalam waktu belakangan ini. So, sambil meramu komposisi yang cocok untuk diary saya kelak gak ada salahnya melemaskan jari dan merentangkan pikiran untuk dituangkan sedikit demi sedikit disini.

Kembali  ke lovelife, ehem. Bulan keenam yang jatuh di bulan Februari ini membuat saya merasa tidak sabar. Tidak sabar akankah kami bisa bertahan & makin menguatkan. Terlebih Maret nanti Dono (well saya selalu mention nama pacar saya dengan santai di blog, paling nda suka noname kalau cerita) akan melanjutkan studi di Jakarta. Yang sudah sudah sih kalau lagi berjarak sama orang yang disayang, kekuatan cinta dan galauisme akan membuat saya berkali kali lipat lebih produktif.

Let's see!

Halaman pertama saya di tahun 2014. Mari menulis lagi, karena menulis adalah self healing *note to myself*

Cheers!
Fanni Yudharisman

Senin, 30 September 2013

NESTLE FITNESSE 14 DAYS CHALLENGE



Halo saya adalah pemilik blog ini yang sudah lama tidak meng update berita maupun kisah cinta saya yang fenomenal itu (haish) dikarenakan berbagai kesibukan. Singkatnya saya bangun dari tidur panjang ini bukan karena semata kangen menulis. Saya ikutan project kece nih guys. Namanya NESTLE FITNESSE 14 DAYS CHALLENGE. Wuih serem juga nih kalo ditantang biasanya mental cicadas suka nantangin balik.

Rules simpelnya adalah kita menjalani 14 hari dengan mengkonsumsi si sereal gress enak endues dan sehat ini dibarengi kegiatan olahraga yang tentunya baik buat tubuh. Jadi kombo deh, enak iya tapi sehat jugak. Makanya olahraganya jangan lupa. Setelah itu terasa deh perubahan buat sistem tubuh kita kaya apa. Misal gue tiap hari sarapan serabutan, dari kueh cubit setengah mateng, roti, pisang goreng dan kawan – kawannya. Nah sekarang coba difokuskan mengonsumsi si Fitnesse. Semoga dalam rentang waktu ini memang terbukti jitu khasiatnya. 

Seru nya lagi, tantangan NESTLE FITNESSE 14 DAYS CHALLENGE ini bukan Cuma boleh diikuti ciwi ciwi kece macam gue ini. Kalian semua juga boleh ikut. Beli aja serealnya di carefour atau swalayan terdekat lalu ikutan deh posting pengalaman as daily journal di blog kamu sendiri (jangan pake blog orang). Trus nanti berkesempatan dapet hadiah. Keren kaan. Aku aja anaknya kan kuis hunter, jadi makin semangat deh.

Nah berhubung hari pertama NESTLE FITNESSE 14 DAYS CHALLENGE ceritanya masih adaptasi, gue cerita love at first sight tentang si Fitnesse ini yah. Sebelum resmi ikutan tantangan NESTLE FITNESSE 14 DAYS CHALLENGE ini, gue pernah colongan nyobain si Fitnesse punya temen gue yang emang anak runner. Pengamatan gue adalah, si Lina (temen gue ini) reflek loh milih Fitnesse diantara deretan sereal lain yang ada pada waktu itu. Kemasannya eye catching, produk Nestle yang udah pasti bernutrisi tinggi dan higienis juga jadi pertimbangan. Tinggal rasanya deh.. Sip pas sampe kosan, gue pun merengek minta nyoba si Fitnesse. Lina dengan kalem membagi perbekalan susu nya untuk gue nikmati bersama Fitnesse.

Sendok pertama mat ague berbinar binar bagai tokoh anime manga. Enaak, crunchy dan nagih. Buktinya kalo si Lina lagi meleng gue tambahin lagi serealnya ke mangkok. Haha. Yak sejak saat itu gue makin penasaran dan gak sabar buat mulai NESTLE FITNESSE 14 DAYS CHALLENGE ini.

Doakan saya berhasil mengimbangi dengan olahraga ya. Sebenarnya sih ingin renang dan zumba tiap hari. Apa daya jatah zumba seminggu sekali dan renang nyari teman yang berani diajak belang dulu. Jadinya sekarang mau cari cari tips simpel work out di rumah dan cek cek video yoga
Have a good & healthy day you people!

Selasa, 04 Juni 2013

Lantunan Joni & Susi, menuju semesta















tidak ada yang bisa diungkapkan saat saya berdiri dengan jarak satu meter setengah dengan melancholic bitch. terima kasih untuk lantunan cerita Joni & Susi yang menyayat nadi, hentakan kepala, dentuman jantung karena berdiri dengan posisi bersebelahan dengan sosok yang membuat saya harus berbagi konsentrasi sepanjang pertunjukan dan after taste yang masih belum hilang sampai sekarang.

Balada Hampir Satu Tahun

Sungguh keputusan yang berani nekat dan ‘memaksakan’. Kalau tidak untuk sebuah album berjudul Balada Joni dan Susi, saya bertaruh saya tidak akan berani kembali kesana.

Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, suasana akan kaku, awkward apapun itu namanya. Tekad saya rupanya sedikit bisa mengendalikan emosi untuk tetap kool dan fokus. Walaupun si sukhoi, kucing yang sekarang besarnya sudah seperti anak macan itu menghampiri kaki saya. Gile, kecinya aja saya takut lah ini udah menjadi kucing gagah yang kekar (lebay).

Setelah kecewa karena tidak mendapati si gholum di rumah (yah kuciwa deh padahal kan kangen, kangen nge bully) akhirnya kami bisa bicara beberapa hal simpel dan dengan sedikit mengumpat dalam hati waktu dia berhasil ngerjain saya. 

‘ibu ada kali di kamar, itu diluar kenapa coba ada mobil?’
‘ih boong banget’ padahal udah siap siap gitu kalo beneran ada ibu kan tinggal sungkem (ditajong).

Ternyata itu semua hanya ulah iseng dan sukses membuat air muka saya berubah. Semoga dia tidak tau saat saya diam diam merekam seisi ruangan dalam otak. Langit – langit, halaman belakang, makanan kucing yang berserakan di lantai, terlebih susunan kursi. Saya duduk berpindah. Dari seberang pindah ke samping. Potongan ingatan saya tersingkap dari peraduannya. Duduk disini memorinya ini, duduk disana saya pernah dibully karena itu. Sayang saya tidak bisa melihat isi kamarnya dan duduk di teras depan kamar. 

‘pindah kamar?’
‘ngga, kamarnya berantakan banget. bangun – bangun udah berantakan banget. masa harus diberesin? Nggak ding, kasurnya patah.’

Entah bagian yang mana yang harus saya yakini. Yang jelas dia masih sama. Jawaban yang sangat membuat saya rindu untuk mendengar jawaban – jawaban seperti itu dalam jenis pertanyaan apapun.

Adapun Kursi kayu panjang dengan pemandangan pohon palem yang saya juga tidak tahu itu jenis apa juga sangat mendorong hasrat ingin tahu saya. Meskipun saya masih menyimpan rapi sebuah foto yang saya ambil dengan kamera handphone, tetap saja saya merasa ini adalah kunjungan yang tidak sahih tanpa melihat si pohon di depan kamar tersebut.

Jujur saya cukup senang saat akhirnya bisa bicara hal yang ingin saya tanyakan. Tapi serasa dicurangi waktu, semua terasa sangat cepat. Yang lambat hanyalah detak jantung saya saat dia memejamkan mata kemudian menjawab pertanyaan saya dengan diawali helaan nafas panjang, disambung tatapan tajam dan dalam sebelum akhirnya memberikan beberapa kalimat penjelasan yang mana saya akan tetap merasa itu kurang jelas.

Dan, satu statement yang bisa saya tangkap adalah ‘memaksakan’, eh itu kata ya? Pokoknya pernyataan deh. Saya akui itu. Walaupun setelah itu saya harus bekerja sedikit ekstra menarik ujung ujung bibir saya untuk membentuk seulas senyum. Baiklah, saatnya melakukan ‘pemaksaan terakhir’. Surat atau kartu menjadi media pilihan. Walaupun saya jauh lebih suka apabila bisa selesai dalam suatu ruang nyata. Bertemu, duduk, bicara tanpa embel embel masa lalu. Menyelesaikan apa yang saya masih sisakan di sudut hati. Semoga, ada keajaiban. Kalaupun tidak, maka saya akan menyerahkan kuasa pada lembaran kertas yang nantinya akan diantarkan pak pos. tanpa pengharapan akan balasan.