Tampilkan postingan dengan label FELLAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FELLAS. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Mei 2013

Crafty Days Tobucil #7



Entah saya masih belum bisa menaklukan sang maha manajemen waktu atau memang saya spesialis pencerita dikala sudah lewat? (alias nyari waktu untuk bisa sekedar nulis dirumah).

Adalah kali pertama saya menyambangi gelaran Crafty Days yang sudah tujuh kali diselenggarakan oleh Tobucil, sebuah toko tempat segala kebahagiaan orang macam saya berkumpul. Terakhir ke Tobucil saya sukses mengikuti workshop kaligrafi jepang, nonton pentas puppet show, kopdar dengan salah satu teman cardtopost (Lily) dan menculik dua lembar kartu dan dua helai kain flannel. Ketika akhirnya tersiar kabar sebulan sebelum hari H, saya sudah asyik masyuk mencari kawan untuk bertandang bersama kesana.
Dengan seksama saya membaca list kegiatan seru yang bisa dipilih dalam 2 hari Crafty Days. Pilihan saya jatuh pada Workshop membuat sandiwara boneka kertas yang di asuh (langsung) oleh Mba Ria dari Papermoon Puppet. Wohoo! Antara senang dan kagum dan norak, saya memilih untuk mengikuti workshop tersebut, berharap bisa foto bareng selepas kelas.

Hari berganti hari, Kerjaan di kantor semakin menghimpit dan hampir mengubur angan saya mendaftar kelas tersebut. Sebuah pesan singkat dua hari menjelang hari H, dimana saya sedang berembuk dengan Andika Budiman untuk menghadiri event itu bersama, mengubah takdir saya. “Aku ikut kelas papermoon puppet yang Sabtu kok, Fan.“ begitu kata Dika. Wah langsung saja saya menelepon ke Tobucil untuk mendaftar, lucky me masih ada tempat untuk kelas tersebut.

Hari yang dinanti tiba, saya dijemput Andika di rumah, sempat pula ia minta minum dulu laksana musafir yang habis mengembara (padahal abis ngirim paket titipan mamahnya :p ) setelah itu kami berdua cukup optimis akan sampai lokasi tepat waktu walau sambil berharap si kelas akan mulai sedikit ngaret. Ketika jarum jam sudah mengarah pada pukul satu siang, kami sedang terjebak macet disekitar jalan braga dan asia afrika, tak pelak saya mengutuki keadaan tersebut. Rupanya ada weekend market braga yang membuat jalan tersebut ditutup. Kami terpaksa harus kembali memutar jalan dan makin panik diperjalanan.

Setibanya di Gedung Indonesia Menggugat, kami menuju meja registrasi. Disana kami bertemu dengan Lily, yang memang bekerja di Tobucil. Hari itu Lily Nampak cantik dan bersemangat. Sayang kami buru-buru dan tidak sempat berbincang. Masuk ke dalam kelas, kami berdua meminta maaf karena datang terlambat dan lekas menduduki kursi di meja terdekat. Rupanya Teh Arla & Teh Nia (LOTF) juga ikutan, dan di ujung meja saya melambaikan tangan pada Lana. Ah, hari yang menyenangkan bertemu banyak teman di satu tempat, hehe. 

Bagaikan dipacu waktu, saya dan Andika langsung mengikuti langkah – langkah yang di contohkan oleh Mba Ria & partner, aku lupa loh Mas nya namanya siapa. Huhu maaf ya Mas, padahal Mas ini baik sekali loh sering menghampiri meja saya & Dika yang masih tampak kebingungan. “Kita datang telat sih ya Fan, jadi kayak yang diburu-buru apaaa gitu.” Haha, saya pun mengiya kan celoteh si Dika. Pelan – pelas saya mengatur napas dan mencoba menguasai kardus bekas dalam genggaman. Hmm, mau dibentuk seperti apa ya ‘panggung’ nya? Mba Ria membawa beberapa contoh yang sudah jadi. Baiklah, saya ikuti saja salah satunya (ndak kreatip). Beres membuat si panggung, saya membolak balik halaman majalah bekas yang saya bawa dari rumah. “Kalau bisa cari karakternya saja dulu, background kolase nya kan bisa menyesuaikan warna dari karakternya,” begitu pesan Mba Ria. Okedeh, karakter pertama yang saya temukan adalah ballerina. Cukup absurd tatkala kearakter selanjutnya yang saya pilih adalah siluet pasangan di meja makan dan Jason Mraz. NYAHAHAHAHAHA. Mampus lo Pan, ceritanya apaan coba. Begitu bunyi pesan desperate di kepala saya. Ah biarlah, cerita belakangan saja, walaupun saya sudah bisa memprediksi ceritanya bakalan ngaco. Prinsip saya, “biarlah ceritanya ngaco, yang penting tampilannya kece”. Berbekal prinsip tersebut saya ngebut mencari halaman untuk kemudian saya robek robek kecil dan ditempel sebagai latar. Yak, benang merahnya adalah ‘restoran’. Duile, gaya bener deh ah. 




Mba Ria cukup hapal dengan karakter ballerina yang sempat saya tanyakan kepadanya. Maka, setelah 2 jam bergelut (tapi gak kerasa loh, sumpeh) maka satu persatu peserta di daulat untuk maju dan menceritakan atau mementaskan karyanya. Ah, pura – pura nggak lihat Mba Ria aaaah. Tapi saya gagal, senyum mesam mesem saya membuat Mba Ria memanggil si ballerina. “Ayo siapa lagi yang sudah selesai, ballerina mana nih ayo cerita.” Err, baiklah. Saya menceritakan tentang kisah sepasang muda – mudi yang sedang dinner di sebuah resto. Karna satu dan lain hal, si wanita pun ngambek ke si pria. Si pria meminta sang ballerina hadir untuk memberikan tarian romantis yang dapat meluluhkan hari si wanita. Si ballerina tak ingin sendiri, maka ia pun meminta Jason mraz mengiringi tariannya. Akhirnya si wanita luluh dan berbaikan. Haa what a night. The end.





Gak apa, emang harus diketawain ceritanya hahaha. Prinsip saya kepake kok, walau ceritanya ngaco, teater box saya termasuk yang cukup rampung dan berhasil dijepret beberapa kawan yang hadir, cie idung saya langsung kembang kempis. Oh iya, pada hari itu Raraspraw, si sohib ciamix dari Jakarta sedang bertandang ke Bandung. Jadilah dia menyelinap masuk ke kelas dan bertemu sebentar. Makasih ya Ras, sayang gue gak dikenalin ke Apgan hahaha. 

Punya Dika gimana? Sebagai pribadi perfeksionis dan kreatif, Dika berhasil mengadaptasi kisah keterlambatan kami hari itu, digabungkan dengan kebaikan Mas di kelas workshop diramu menjadi scenario pentas. Dika menggambar sendiri karakternya, tidak mengambil dari majalah. Sayang, Dika memilih untuk merampungkan si kotak panggung dirumah. Jadilah dia cerita tanpa kotak hehe. 

Selesai kelas, saya melancarkan misi untuk foro bersama mba Ria. Setelah itu saya dan Dika menjelajah venue Crafty Days #7. Menyapa Mas Budi di stand garasi opa nya, melihat semua karya yang hadir di stand-stand dan jatuh cinta pada boneka kaus kaki serta cap bertuliskan ‘empat kali empat sama dengan enambelas, sempat tidak sempat harus dibalas’. Beuh cardtopost banget kaaan, sayang berhubung saya lagi bokek maka saya cuci mata aja deh hehe.

Setelah menyimak pameran foto, saya diantar Dika ke Kummara untuk brifing Happy Play. Sungguh hari yang menyenangkan. Semoga Crafty Days #8 makin seru! Salam,
Fanni Yudharisman

Jumat, 11 Januari 2013

from Bandung to Solo, #TTM






inilah foto TTM saya yang mendarat di tangan Hilman. 
untuk kisah yang dilantunkan mas hilman tentang mixtape saya, bisa kalian simak di sini

Salam Travel Thru Mixtape!

Travel Thru Mixtape – Berkelana Dalam Tembang Daur Ulang

Berikut adalah ulasan TTM saya yang juga sudah di publish di travelthrumixtape.tumblr.com 

Setelah penantian cukup panjang, akhirnya beberapa hari lalu #TTM untuk saya tiba!
Sepulang kerja, setelah menjalani hari yang tidak kool (alias riweuh), mendapati sesosok #TTM diatas meja membuat saya lupa ganti baju, lupa makan dan lupa mandi. Langsung saya mengambil kamera. Membuka perlahan kemasan paket yang sangat rapi itu sambil menahan napas. Ketika dibuka, jeng jeng!


KYAAAA BAGUS BANGET (dan beda banget sama mikstep gueeh!) dengan girang gemirang saya memamerkan mikstep ke papah mamah yang selalu kebingungan dengan berbagai kiriman paket untuk anaknya yang beken seantero pak pos wilayah bandung (ngaco).

“Nomer rumahnya salah tuh, harusnya kan 15/125 A. untung pak pos nya udah akrab. Malah dia yang ngasih tau. Bu, Fanni mah harusnya no 15/125 A kan yah? (si mamah menirukan suara pak pos yang dengan asoynya apal alamat rumah gueh)”

Sementara si papah membolak balik mikstep saya, “ini dijadiin komunitas aja, pan. Ngumpul gitu sambil bawa mikstepnya ini.”

Wii si papah yang notabene anak pespa, naluri komunitasnya diturunin ke saya tuh kayanya. “iya pah, tadinya emang mau ngumpul trus sharing tentang miktep masing – masing, tapi jadinya dikirim langsung ke alamat rumah. Nanti deh pani bikin gathering nya kalo pada bisa,” anaknya yang cantik menjawab dengan bijak, sementara masih nyengir aja daritadi saking excitednya.

Mau langsung photoshoot bersama si mikstep ciamik, tapi si Pina (baca : Finna, kembaran saya) sang fotografer belum pulang kerja. Yang bisa saya lakukan sambil menunggu Pina pulang adalah mengagumi artwork mikstep dari kawan baru ini. Bentuknya yang simpel, dibuat sendiri dari kertas yang berserat, berwarna dasar putih. Covernya jenius sekali menurut saya. Dengan teknik tumpuk dan stiker berwarna warni benar – benar saya acungi jempol untuk kreativitas Hilman, sesosok pria dari Solo. Semoga berkesempatan untuk berbincang tentang TTM ini lebih mendalam dengan Hilman (makasih loh ya, Raras & Resqi yang memahami perasaanku, sini gue cium satu – satu). 






Tema yang diangkat juga sangat menarik, judul ‘do judge a song by it’s cover’ merefleksikan pesan yang ingin disampaikan. Cover lagu –lagu pilihan yang terkadang tricky (bisa lebih enak dari si lagu asli atau bahkan bikin si lagu jadi gak enak) dengan apik dirangkum dalam 10 track pilihan Hilman. Deretan list lagu Mas Hilman membuat saya makin penasaran. Selain Use Somebody yang masuk 2 kali dalam mikstep ini (oleh Raisa & Clara C) dan Bizzare Love Triangle oleh Stabbing Westward, track lainnya masih cukup awam ditelinga. Bahkan membuat saya bertanya – tanya. Seperti apakah Keane membawakan What a Wonderful World nya Louis Amstrong dan lantunan Best Coast saat menyanyikan kembali tembang lawas milik Nirvana, About a Girl?
Dibuka oleh cover yang upbeat dengan vocal ceria dari The Bird and The Bee – Heard it On The Radio (Daryl Hall and John Oates). Kemudian Clara C membawakan Use Somebody yang dimedley dengan Falling For You (Kings of Leon + Colbie Caillat), mashed up yang cukup apik dengan iringan gitar akustik. Dilanjutkan dengan deretan lagu cover lainnya yang membuat saya menerka – nerka apakah pertanyaan tricky tadi bisa saya jawab, hehe. Overall semua track menarik, and worth to listen. But above all, the artwork is still my favourite all time! Harus minta tips & trick sama Hilman nih. Ahiwww 



Thank you #TTM sudah memberikan lifetime ‘traveling without moving’ experience yang berkesan. Semoga begitu pula yang dirasakan oleh seluruh peserta dari Jakarta, Bandung, Cirebon, Bekasi, Semarang, Solo, Surabaya dan Jogja. Cheers! Yuk bikin project #TTM selanjutnya, keep contact fellas :D
Salamaniselalu!


Selasa, 11 September 2012

Travel Thru Mixtape

Kalau ada yang namanya takdir yang menyenangkan ya ini!
Sebentar ya, saya tekan tombol rewind dulu.

Kira kira satu bulan yang lalu saya mendapat undian mixtape dari seorang kawan, Raras namanya. Yang beruntung mendapat mixtape dari Raras tidak hanya saya, ada seorang lagi, pria (semoga tulen, haha) bernama Resqi.

Setelah mendapat mixtape sepertinya energy dan haru biru kebahagiaan mendapat bentuk fisik sebuah mixtape DIY yang indah tidak hanya diraskan saya seorang. Singkat kata setelah berkomunikasi lewat BBM, di suatu hari yang cerah (anggap aja gitu, biar dramatis) si Resqi bilang “kita bikin project tukeran mixtape antar kota yuk!”


Wuih ini anak walaupun MABA boleh juga idenya (ditabok Resqi). Yak dan berlangsunglah persiapan untuk meluncurkan project ajaib ini. Dimulai dengan mencari ‘nama project’. Disepakati “Travel Thru Mixtape” dengan tagline “A Journey Without Traveling”. Wuidiih sedap yee. Si Resqi membuat doddle untuk logo TTM (travel thru mixtape bukan teman tapi malak eh mesra, ya itulah), Raras membuat konten tumblr berisi ketentuan rules dan apa saja asiknya ikutan TTM (harus asik pokonya) sedangkan saya membuat ricuh :p

Sekilas tentang TTM dikutip dari tumblr;

"Definisi mixtape yang kerap ada dalam pengertian khalayak yaitu kegiatan membuat kompilasi lagu dalam suatu media untuk kepentingan pribadi maupun komersil. Di era kaset, pembuatan mixtape sangatlah butuh kelihaian. Butuh ketepatan dalam merekam lagu lewat radio, muncul rasa was-was ketika menit atau detik akhir karena takut penyiar mengambil alih lagu yang kita rekam, perjuangan mendapatkan judul dan nama penyanyi/band yang kita rekam lagunya. Dewasa ini — terlebih di jaman yang mudah untuk mendapatkan apapun —  proses pembuatan mixtape menjadi semakin mudah, mixtape juga seringkali digunakan sebagai sarana bertukar lagu/informasi/pengalaman. Sebut saja, 8tracks, sebuah website dimana kita bisa membuat playlist didalamnya dan semua orang bisa melihat mixtape kita dengan mudah. Namun, disini kami membuat Travel Thru Mixtape bukan dengan mengandalkan fasilitas suatu website seperti 8tracks untuk bertukar mixtape, kami hadir dengan wujud yang lebih riil dengan media CD, DIY mixtape. Lantas apa untungnya? Apa tujuannya membuat kompilasi lagu melalui CD yang sudah kamu modifikasi cover atau isinya? Untuk mengembalikan budaya fetish Indonesia yang dulu digadang-gadang menghargai rilisan fisik? Klise! Kita melakukan ini untuk senang-senang! Bertualang lewat mixtape! Ya! Membuat suatu kompilasi lagu dengan kreatifitas masing-masing, lalu di-barter dengan mixtape dari orang yang (mungkin) belum kamu kenal — siapa sangka nanti ia akan jadi teman barumu? Jika efek psikologis sebuah lagu benar adanya, maka dengan Travel Thru Mixtape, kita bisa pergi kemana pun —  tanpa harus menggunakan time travel atau pintu kemana saja —  bahkan walau hanya manteng di depan playlist.

Akhirnya tanggal 5 September kemarin TTM resmi dimulai! Untuk lengkapnya silahkan baca disini. Selamat menikmati ‘perjalanan’ menemukan kejutan musik ciamik dari teman di antah berantah kota Jakarta, Bandung, Semarang, Cirebon, Jogja, Solo dan Surabaya! Saya sangat excited untuk project TTM ini, terima kasih gank TTM ku yang solid (ngaku – ngaku). Sukses untuk kita Ras, Res. Semoga project senang senang ini bisa menyebarkan kebahagiaan kepada semua peserta TTM! Yeahh!

ps : ada artikel cihuy tentang TTM juga dari jeung Raras disini , baca ye! 

Jumat, 03 Agustus 2012

b//w -- desta


foto pake kamera si desta
bagus, belum punya foto analog bw sebelumnya
latarnya hutan baksil malam hari
latar ngetik tulisan ini Simon & Garfunkel
latar perasaan saya hari ini, rindu!

Jumat, 27 Juli 2012

kampret kala senja






ceritanya gank LO Lightchestra mau reunite gitu kan sambil nonton manusia kampret
berhimpunlah saya, Finna, Danti, Joe, Almer dan Riszky di sebuah pusat keriaan alias mol
yang kemudian kami bersumpah gak akan nonton disana lagi 
(kalo gak kepaksa dunia akhirat)
terhenyak saat tiba diloket ternyata HTM naik ceban sodara-sodara
untung si manusia kampret itu lumayan bagusnya
kalo nggak saya mau ngacak ngacak booth popcorn tuh
lalu beresnya kita buka puasa bareng seraya saya paksa Almer untuk gelar lapak zine 
hasil buruan pas Bandung Zine Fest kemarin.

Pesan : berhati - hatilah dan cermat dalam menentukan jalan jalan sekoy anda
Kesan : susye ye begaul ama anak kekinian macam teman teman saya ini, ada aja ngaco nya! tapi seru! sayah berasa poreper young and wild and free! (tjakep)