Tampilkan postingan dengan label words. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label words. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Juli 2012

roman ketiga

aku jatuh dan tak bangun lagi
tenggelam di rayuannya
menerpa segala angkara murka
padanya ku kan setia

Senin, 25 Juni 2012

Labirin

Aku tersesat tapi tak membutuhkan pertolongan
Aku angkuh dan meraba dalam gelap
Titik terang itu bahwasanya nyata
Rasanya seperti tanganmu menjulur kearahku
Terasa dekat dan hangat
Aku masih mencari lekukan jalan lain
Yang membawaku kembali menuju lekukan lainnya
Kupacu langkahku cepat, rapat penuh hasrat
Terengah tak terarah
Labirin ini memberi pilihan ke banyak ruang
Jalan yang menutup tak menyurutkan langkahku
Putar arah kembali mengikuti kata hati
Terpejam kaki melangkah ke kiri
Ah rupanya kau selalu menunggu disana
Dalam diam dan pengharapan
Keangkuhanku selama ini mengaburkan pandangan
Dari sorot mata tajam yang kau pancarkan
Kau bagai rumah yang selalu membuka pintunya untukku
Menghembuskan angin sejuk
Maka berakhirlah pencarianku dalam labirin ini
Kau adalah tujuan, tapi kita akan berjalan beriringan
Hendaknya kau menuntunku menepiskan semua ragu
Satu tahun pengembaraanku bermuara
Pada tentramnya kata dan cita yang kau bawa
Untukmu duniaku ada
tulisan dari seorang yang menelepon di malam hari untuk berbagi cerita ----

yang di sampingku malam ini

Hari ini tidak lepas dari hari kemarin, dan hari esok juga tidak lepas dari hari ini. Sesuatu yang mewakili diriku hari ini begitupun adanya.  Diriku terhadap kedalaman diriku, diriku terhadapmu, dan diriku terhadap orang lain. Dalam tulisan ini cukuplah diriku terhadapmu dari kedalam diriku. Dalam kalimat pop menjadi “aku padamu”. (Silahkan tersenyum, karena akupun tersenyum ketika menulisnya)

Berhubung perasaan dan jam tidurku yang random saat menuntaskan tulisan, aku berharap maksud dari tulisan ini dapat tersampaikan dengan jelas. Aku membuat tulisan ini setelah 3 jam di kantor polisi, untuk mendampingi teman yang jadi korban penodongan dengan senjata tajam, dan aku mulai membuat tulisan ini setelah menuntaskan sholat subuh.

Kembali pada perasaanku hari ini yang diolah oleh keadaan dan kenangan dari hari-hari lalu. Tentang perasaanku kepadamu, pada hari lalu bagai bentuk jalan dari kotaku menuju kotamu. Mendaki-menurun, melurus-menikung, dan menyepi-meramai. Karena jalan mesti ditempuh, aku tetap menelusurinya sampai hari ini.

Pernah muncul keinginan untuk mengalihkan perjalanan ke kota lain—kota yang lebih dekat, kota yang lebih hangat. Namun ketika  hampir sampai di kota mereka aku merasa tersasar di dunia yang tidak dikenal, hingga kembali meneruskan perjalanan ini ke kotamu—ke dirimu—hingga hari ini.

Perjalanan ke kotamu—ke dirimu—memang bukanlah dongeng sebelum tidur yang penuh berisi khayalan dan kejadian yang diamini oleh keajaiban. Perjalanan ini berisi pertanyaan-pertanyaan untuk meneruskan langkahnya. Seperti katamu “teka-teki” itu telah aku susun sampai hari ini. Aku telah menyelesaikannya sebelum mengajakmu untuk menghadapi “teka-teki” halaman ke dua.

Hari ini dan beberapa hari lalu, percakapan kita kembali riuh. Dia kembali karena ada yang menjemput dan menyulutnya. Barangkali percakapan itu akan menjadi pencukupan atas segalanya. Pencukupan atas keyakinan dan keberanian. Pada paragraf inilah aku merasa sangat terwakili hingga dapat menjadi pencukupan juga dari keseluruhan tulisan ini.

04.30-05.00/24 Juni 2012

Senin, 11 Juni 2012

polos

Vi, kini aku tahu siapa aku. Aku dilahirkan sebagai batu tulis kosong. Aku tabula rasa, aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup. Aku tak pernah menyesalinya. Aku tak menyesali jalanku.

Halaman terakhir dari buku yang kubaca selama kurang lebih 2 minggu itu membuatku merinding. Setelah hanyut dalam cerita kompleks dan memberikan kejutan di setiap bab nya akhirnya cerita Galih, Krasanaya, Violet, dan Raras berakhir pagi tadi. Pagi saat aku membuka mata untuk melanjutkan bacaanku yang tertunda tadi malam. 

Saat halaman makin menipis di genggaman tangan kananku pertanda cerita akan usai entah kenapa aku sedih. Saat baru mulai membaca kembali dan dipertemukan dengan buku karangan Ratih Kumala ini hasrat membacaku seolah penuh. Yang tadinya kosong tak terisi, sekarang penuh bahkan minta diisi lagi dan lagi.

Minggu, 10 Juni 2012

Kamu seperti menara. Selalu dapat kulihat walau jauh dan di kerumunan orang.
- Tabularasa, Ratih Kumala kubaca Juni 2012

Jumat, 18 Mei 2012

Secangkir Senja (untuk Fanni)


Tetesan hujan bergemericik
Diatas genting seng
Menyamarkan butiran halus gula pasir
Yang berjatuhan di dasar cangkir putih

Sambaran kilat memberi tahu bahwa tanganmu
Sedang mengaduk cairan hangat dengan sendok besi

Aroma dari kedua tanganmu membawaku
Menuju udara dingin menyegarkan
Bibirku menyesapnya
Lidahku menerjangnya
Namun
Mataku yang semula terpejam mendadak terbuka
Terpana menatap jendela, dengan butiran hujan menari diatasnya
Udara dingin menyergap kesadaran
Mengangkat realita imajinasi
Yang muncul dari asap api padam

 terima kasih Dim, lucu mengingat ketidaksengajaan ketika halaman ini terbuka di depan kita. dan aku membaca namaku disitu. sungguh manjur untuk menyunggingkan senyum setiap aku mengingatnya.