Tampilkan postingan dengan label experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label experience. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 September 2012

#KartuPosBerantai @cardtopost

Bentar bentar, kok kayak permainan jaman saya SD dulu yah? Pesan berantai gitu kan. Ih seru nih! Ikutan aaah!
Kiram sang admin pernah ngobrol via whatssap sama saya.
“Fan, kalau ada project kirim kartu tapi berantai gitu seru gak menurutmu?”

Ceritanya si Rizky lagi ‘jejak pendapat’. Hehe. Ya saya jawab itu seru banget! dia langsung mengirimkan email berisi rules si #KartuposBerantai. Pas baca saya langsung semangat banget buat ikutan dan ikutan diskusi perihal tema dan lain lainnya. 

Gak lama kemudian, resmi diumumkan project ini di blog cardtopost. Siapa saja, bahkan yang belum terdaftar anggota sebelumnya boleh mendaftar untuk project ini. Satu syarat paling mendasar adalah ‘harus berkomitmen untuk bertanggung jawab meneruskan kartu dengan sebaik baiknya pada anggota kelompok selanjutnya’.

Wuiih serasa dapat tugas kenegaraan deh pokoknya! Minat peserta dibagi dalam 3 kelompok besar. Menulis cerita, menggambar dan kolase. Tentu saja saya memilih menggambar dong (pede, padahal gambarnya butut). 
 
Harap harap cemas menunggu si kartu luar biasa itu datang kerumah. Dibilang luar biasa karena ukurannya lebih besar dari ukuran biasa dan pada sisi alamat bisa memuat tiga alamat sekaligus (keprok buat yang desain). 
 
Setelah mendapat email berisi daftar pengirim kloter pertama, nama saya tidak ada disana. Maka saya menunggu dengan manis giliran saya tiba. Ternyata saya giliran kedua! Awal minggu kemarin, sampailah si kartupos berantai. 
 
Hal pertama yang saya lakukan adalah mangap. Ya, soalnya si penggambar pertama gambarnya bagus banget! 
 
 
Hal selanjutnya adalah saya panik! soalnya baru ngeh si #KartuPosBerantai ini pakai tema! Ya, tema nya adalah Masa Kecil masa cilik alias Childhood. Aduduuh akyu bingung. Selama ini cuma excited tanpa mempersiapkan gambar yang cuco' dengan tema. Jadilah si kartu sempat nganggur dulu sehari untuk kemudian saya 'semedi' (baca : browsing) cari inspirasi gambar.
 
Setelah menimbang dan mengukur...kemampuan saya dalam menggambar yang masih minim seperti rok mini, maka hasilnya belum bisa matching dengan gambar sang pendahulu. Saya menggambar yang masih satu 'suasana childhood saja deh lah yaw'. Soalnya kalau kebanyakan mau dan mikir nanti kasihan yang giliran teman team terakhir, lama nunggunya. (sok care dan perhatian)
 
Beginilah penampakan gambar saya. Plis inimah jangan dicela, dipuji harus banget!
*digetok teh botol*
 
 
*ceritanya kamu nge zoom yah* 
ta-da!
 
 
Seperti biasa saya menggunakan cat air, karna gak punya krayon dan gak bisa pakai cat minyak :p Saya cenderung kilat dalam menggambar. Biasanya membuat sketch kasar dulu sekitar 15 menit, lalu digambar ulang dan diwarnai. Semua selesai sekitar 30 menit saja, ya makanya hasilnya masih gini gini aja. Tapi tetep dukung aku yah, aku janji belajar terus kok *naon*
 
Saya memutuskan menggunakan pojok kiri kartu. Sebenarnya agak kaget juga si kartu berukuran 'hanya segini' saya kira yang besar banget gitu, jadi gambarnya suka suka haha. Nah baru sadar disitu tantangannya. Dengan space yang ada kita harus bekerja as a team, menyatukan 3 gambar jadi satu frame yang indah. Tsaah. (padahal takut si tangan ketiga ngamuk space nya kita abisin trus ngacak ngacak gambar yang udah ada, sadis.)
 
Pendahulu saya gambar pakai pensil, lalu diwarnai pakai pensil warna dan diberi garis tepi menggunakan drawing pen. Saya juga gambar pakai pensil, warnai dengan cat air lalu beri garis tepi pakai spidol. Nah selanjutnya pakai apa yah? Seru! Ngebayanginnya aja saya udah mesam mesem.
 
Rencananya #KartuPosBerantai ini mau dibuatkan pameran, semoga lancar dan terlaksana dengan baik, amin. Sukses juga buat teman teman di kelompok Cerita berantai dan Kolase berantai :)
 
Salam sayang colek cat air,
xoxo
 
 

Rabu, 18 Juli 2012

15x15x15

Jadi ukuran sebatas 15x15x15 akan menjadi benang merah dalam pameran ini? Gumamku dalam hati. Deretan nama seniman yang tercantum dalam spanduk di muka Galeri Soemardja ITB membuat hatiku bersorak kegirangan. Banyak sekali, konon karya yang akan dipamerkan berjumlah 60 buah. Menunggu sejak pukul setengah tujuh malam rupanya tak jadi soal buatku yang memang datang terlalu awal.




Setelah dibuka dengan penampilan akustik dan sambutan ketua panitia serta kurator, pukul 8 pengunjung dipersilahkan masuk. Ini bukan kali pertamaku memasuki galeri soemardja tapi aku selalu bersemangat. Mengetahui tata pameran yang memanjakan mata, berbaur dengan para seniman pembuat karya dalam pameran dan pengunjung lainnya (masih mayoritas mahasiswa FSRD ITB). 







Ragamnya media dan teknik yang digunakan oleh para seniman membuat tak henti hentinya aku mengomentari dan menjepretkan kameraku kearah karya. Perputaran mengelilingi galeri yang sejatinya tak begitu luas itu seperti menghentikan waktu sesaat.
Tak terasa disela perbincangan hangat dengan beberapa kawan yang dijumpai menyadarkanku akan malam yang tiba tiba sudah larut. Pukul 9 malam aku berpamitan dan berjalan meninggalkan pameran 15x15x15.





Disinilah seharusnya teman temanku bertandang, mengapresisasi karya dan memantikkan semangat untuk membuat langkah kecil perubahan. Selain menikmati waktu untuk bersosialisasi tentunya. Salam hangat.

gowes semaput

Pesan moral : jangan sok sokan sepedahan jauh kalo gak pernah olahraga sebelumnya.
Alhasil setelah persepedahan impulsive dan tanpa perencanaaan matang, saya finna dan (kami memaksa untuk ikut serta) Joe bersepeda untuk makan Iga Bakar Jogja di Wastu Kencana. Sebut saya norak. Tapi terakhir kali bersepeda secara intens saat duduk di bangku sekolah dasar dengan track hanya seputaran komplek rumah kemudian kemarin melewati jalan raya kota bandung. Diklaksoni kendaraan lainnya, dihujani pandangan aneh pengguna jalan lainnya dan perasaan pasrah kepada yang Maha Kuasa menjadikan itu pengalaman yang tidak bisa dilupakan.





 Ada baiknya lain kali cari jalanan bandung yang tidak berbukit naik turun serta jarak tempuh singkat. Daripada harus menyusahkan Joe yang bolak balik menjaga dan menyemangati saya yang sudah kepayahan hampir semaput.

Tidak ada menusia yang lebih berjasa di hidup saya kemarin kecuali si Joe.

Sekian dan terima kasih.
Salam gowes semaput

One fine (art) date

Galeri nasional! Putih besar dan unik bangunannya. Khas bangunan bersejarah masa lampau yang masih terjaga keasliannya. Pameran dengan title Karya Sang Juara memang benar benar merefleksikan karya yang layak diapresiasi tinggi disamping karena para artist telah berhasil menjadi juara di penghargaan seni ternama.









Ruangan luas berjejalan dengan karya seni mengundang decak kagum bahkan umpatan kekaguman membuat siang di sabtu itu terasa sejuk. Langkah mengikuti arah panah menuju satu karya ke karya lainnya yang terbagi dalam beberapa sekat ruang. Tiap nama dan judul karya yang kubaca berusaha kuingat dan kusimpan dalam dalam dalam arsip pikiranku. Seperti mendapat sekotak harta karun, aku berseri seri mengajak semua teman untuk mengabadikan cerita dalam foto bersanding dengan karya karya mengagumkan itu.





Kencan ideal siang itu bersama orang orang tersayang sungguh membuat hatiku penuh dan napasku tertahan. Bersyukur masih bisa menikmati puluhan benda indah yang selalu bisa mengispirasiku untuk membuat karya, paling tidak untuk diriku sendiri.

Terima kasih Putri, Bene, dan Pepe yang sudah menemaniku dan Finna ke galeri nasional! Jangan kapok yah :D 

Salam sayang

Senin, 09 Juli 2012

Bandung New Emergence Volume #4

Ketagihan! Itu yang saya dan Danti rasakan tiap ke galeri atau pameran. Beres datang ke satu pameran pasti cari cari lagi yang selanjutnya. Menikmati karya seni bukan Cuma kodrat dan hak anak anak jurusan FSRD loh. Kalau kita mau coba datang, nikmati, apresiasi dan resapi pasti menyenangkan. Siapa yang gak senang dikelilingi benda seni nan indah yang dibuat oleh generasi muda Indonesia?



Nah untuk itu saya, Danti dan Finna datang ke Bandung New Emergence volume 4 di Selasar Sunaryo Art Space. Setelah sebelumnya datang Artist Talk tapi ujungnya doing karena telat L Sesampainya kita di SSAS, masuk ke ruang pameran tetap dengan lukisan pak Sunaryo lalu naik ke ruangan atas. Disana rupanya karya yang ditampilkan lebih ‘serius’ untuk penikmat awam macam saya. Tapi perhatian saya tertuju pada sebuah layar kecil yang memutar cerita ‘behind the scene’ masing masing karya disana. Asiknya yang menuturkannya ya sang artist itu sendiri. Ternyata mereka masih muda – muda loh! Oh iya, pameran 2 tahunan ini memang menampilkan karya seniman muda yang sudah mulai ‘meniti karir’ artinya sudah punya karya yang cukup diperhitungkan. Sudah lolos kurasi ketat nampaknya. 





Lanjut ke ruangan selanjutnya yang terpisah di bawah, dekat cafĂ©. Ada 2 ruangan. Di kedua ruangan ini karya yang ditampilkan lebih ‘urban’ dank has anak muda. Yang seru sih waktu kaget dengar suara anjing yang menggonggong saat kita melewati sensor yang entah dipasang dimana. Kocak juga waktu ada satu space mirip tempat nonton dengan deretan kursi kayu. Loh kok yang diputar dvd How I Met Your Mother? Rupanya judul karya nya How I Met Your Artwork. Aah lucu sekalii.




Setelah itu di ruang ketiga ada susunan piring dengan tulisan “in case you haven’t notice I miss you” aah ini aing pisaan! *dalam hati* Bagus sekali ide nya.  Wah pokonya semua karya bagus dan punya identitas masing-masing. Selepas dari ruang pameran, Danti mengingatkan, “oia ke perpusnya yuk, Fan”. Oke setelah Tanya Tanya sama petugas galeri, di balik dan dipojokan sampailah kita ke perpustakaan nya. Wah saya dan Danti seperti gak mau keluar dari sana. Homy, nyaman sekali dengan deretan buku seni lengkap. Petugasnya pun ramah. Saya dan Danti sibuk berkeliling menyusuri tiap deret buku-buku seni itu. Kemudian kami bertekad harus menyediakan waktu lebih untuk kemudian singgah lagi ke perpustakaan SSAS.





Gak terasa disana sangat menyenangkan, seperti banyak sudut yang bisa dinikmati di SSAS, tapi jadwal berkata lain. Jam 4 kami meninggalkan SSAS untuk menonton film Lewat Djam Malam di blitz pvj. Sempat bingung juga karena gak ada poster film nya di pajang, tiketnya sih bisa dibeli langsung di loket. Pas pilih tempat duduk kita bertiga sempat terhenyak. Baru ada 4 orang penonton lain yang beli tiket sebelum kita. Alamat bisa koprol di studio nya nih. Hehe. Oke sip akhirnya total penonton Cuma 8 orang sodara – sodara. Overall ceritanya memang drama ala romansa jadul. Yang menghibur buat saya sih dialognya yang masih baku penggunaan bahasa nya. Lalu aktingnya juga kaku khas jaman dulu. Tapi menarik kok, walau ditengah agak bikin ngantuk. Mungkin karena alurnya datar yah. Buat dedek dedek yang hobi nya nonton film Hollywood memang tidak disarankan sih ya hehe.

Nah begitulah cerita kencan sore yang padat namun sangat menyenangkan bersama kami bertiga. Tunggu cerita ‘perburuan’ pameran di galeri lainnya! Adios!