Senin, 25 Juni 2012

Labirin

Aku tersesat tapi tak membutuhkan pertolongan
Aku angkuh dan meraba dalam gelap
Titik terang itu bahwasanya nyata
Rasanya seperti tanganmu menjulur kearahku
Terasa dekat dan hangat
Aku masih mencari lekukan jalan lain
Yang membawaku kembali menuju lekukan lainnya
Kupacu langkahku cepat, rapat penuh hasrat
Terengah tak terarah
Labirin ini memberi pilihan ke banyak ruang
Jalan yang menutup tak menyurutkan langkahku
Putar arah kembali mengikuti kata hati
Terpejam kaki melangkah ke kiri
Ah rupanya kau selalu menunggu disana
Dalam diam dan pengharapan
Keangkuhanku selama ini mengaburkan pandangan
Dari sorot mata tajam yang kau pancarkan
Kau bagai rumah yang selalu membuka pintunya untukku
Menghembuskan angin sejuk
Maka berakhirlah pencarianku dalam labirin ini
Kau adalah tujuan, tapi kita akan berjalan beriringan
Hendaknya kau menuntunku menepiskan semua ragu
Satu tahun pengembaraanku bermuara
Pada tentramnya kata dan cita yang kau bawa
Untukmu duniaku ada
tulisan dari seorang yang menelepon di malam hari untuk berbagi cerita ----

yang di sampingku malam ini

Hari ini tidak lepas dari hari kemarin, dan hari esok juga tidak lepas dari hari ini. Sesuatu yang mewakili diriku hari ini begitupun adanya.  Diriku terhadap kedalaman diriku, diriku terhadapmu, dan diriku terhadap orang lain. Dalam tulisan ini cukuplah diriku terhadapmu dari kedalam diriku. Dalam kalimat pop menjadi “aku padamu”. (Silahkan tersenyum, karena akupun tersenyum ketika menulisnya)

Berhubung perasaan dan jam tidurku yang random saat menuntaskan tulisan, aku berharap maksud dari tulisan ini dapat tersampaikan dengan jelas. Aku membuat tulisan ini setelah 3 jam di kantor polisi, untuk mendampingi teman yang jadi korban penodongan dengan senjata tajam, dan aku mulai membuat tulisan ini setelah menuntaskan sholat subuh.

Kembali pada perasaanku hari ini yang diolah oleh keadaan dan kenangan dari hari-hari lalu. Tentang perasaanku kepadamu, pada hari lalu bagai bentuk jalan dari kotaku menuju kotamu. Mendaki-menurun, melurus-menikung, dan menyepi-meramai. Karena jalan mesti ditempuh, aku tetap menelusurinya sampai hari ini.

Pernah muncul keinginan untuk mengalihkan perjalanan ke kota lain—kota yang lebih dekat, kota yang lebih hangat. Namun ketika  hampir sampai di kota mereka aku merasa tersasar di dunia yang tidak dikenal, hingga kembali meneruskan perjalanan ini ke kotamu—ke dirimu—hingga hari ini.

Perjalanan ke kotamu—ke dirimu—memang bukanlah dongeng sebelum tidur yang penuh berisi khayalan dan kejadian yang diamini oleh keajaiban. Perjalanan ini berisi pertanyaan-pertanyaan untuk meneruskan langkahnya. Seperti katamu “teka-teki” itu telah aku susun sampai hari ini. Aku telah menyelesaikannya sebelum mengajakmu untuk menghadapi “teka-teki” halaman ke dua.

Hari ini dan beberapa hari lalu, percakapan kita kembali riuh. Dia kembali karena ada yang menjemput dan menyulutnya. Barangkali percakapan itu akan menjadi pencukupan atas segalanya. Pencukupan atas keyakinan dan keberanian. Pada paragraf inilah aku merasa sangat terwakili hingga dapat menjadi pencukupan juga dari keseluruhan tulisan ini.

04.30-05.00/24 Juni 2012

Selasa, 12 Juni 2012

Afternoon Date






Senja itu aku dan Danti mengunjungi pameran ilustrasi di Galeri Padi. setiba disana suasana sepi, wajar saja. hari itu bukan hari pembukaan pameran justru tinggal beberapa hari tersisa. setelah senyum ramah pada penjaga di depan, kami dipersilahkan masuk. rupanya ilustrasi yang ditampilkan tidak begitu banyak namun cukup menghiasi semua sisi ruangan. sepertinya satu artis memberikan 2 buah ilustrasinya. aku mengagumi hampir kesemuanya. ada yang menggunakan pensil, cetak diatas kertas hingga menggambar di post it! aku dan Danti berputar dalam ruang menikmati satu karya dan lainnya. membaca kurasi yang terpampang di pintu masuk, menilik isi buku tamu (ternyata cukup banyak yang datang, mungkin di hari pembukaan pameran). setelah puas kami mengunjungi Selasar Sunaryo yang sialnya kami datang pada hari Senin dan ternyata tutup :( baiklah 'kencan sore' kami pun berlanjut ke destinasi impulsif yang secara tetiba kuusulkan. kemanakah? 

 'kita ke Kineruku yuk Dan?'
'kamu belum, Fan?'
'belum, gak pernah ada teman kesana (alasan :p haha)
'oke yuk kesana sambil tunggu jemput ibuku'
berangkatlah kita ke Kineruku :) Yeay!

Lewat ciumbuleuit ternyata kita, masuk ke perumahan asri yang rumahnya besar dengan taman di depan. Sejuk deh, kalau sepedahan kayanya seru. Sayang jalanannya bikin betis cekot-cekot kalo sepedahan disana. Nanjak semua! Lalu mobil masuk ke sebuah rumah yang dari luar terlihat agak tua khas rumah ‘jadul’ di Bandung. Di muka rumah ada papan bertuliskan ‘Kineruku’. Rupanya ada sebuah lampu seperti sirine sebagai penanda dan pembeda dari rumah – rumah lainnya. Biar gak tertukar dengan rumah tetangga kali yah, hehe. 

Aku lalu mengajak Danti mampir ke Garasi Opa yang terletak disebelah Kineruku. Benar – benar di garasi loh. Tapi tentu sudah dimodifikasi, disulap menjadi sebuat tempat penuh barang –barang antik nan menarik. Yang mencuriperhatianku adalah sebuah telepon kuno, lampu sign Nyonya Meneer berwarna kuning, artwork jadul berbingkai untuk hiasan dinding dan tentu saja kacamata vintage! Puas menikmati atmosfer nostalgia di Garasi Opa, kami melangkah masuk ke Kineruku.




Whoa! Aku beru pernah kesana dan langsung jatuh cinta. Seraya mengutuki diri kenapa tidak dari dulu kesini. Selain kendala transportasi sepertinya tidak ada yang membuat aku berpikir dua kali untuk tidak mengunjungi tempat ini. Buku – buku yang beragam, suasana homey dan hamparan rumput beratapkan langit cerah sore di halaman belakang seperti menyihirku. Tak bosan aku berkeliling dari satu rak buku ke rak lainnya untuk menyentuh buku – buku yang berjejer rapi disana dengan ujung jari telunjukku. Terpekik tertahan saat menemukan buku –buku yang selama ini aku cari dan kemudian bingung setengah mati ketika Danti menawariku untuk meminjam salah satu buku disana menggunakan kartu anggotanya. 

Danti dengan sabar membantuku memilih buku dan memberikan rekomendasi buku-buku bagus yang pernah dipinjamnya disana. Ketika menemukan satu deret biografi Soekarno, Moh Hatta, dan Tan Malaka hatiku kembali gamang. “Bisa nggak adil nih kalau aku cuma pinjam biografi Tan Malaka dan yang lain tidak”, pikirku. Belum lagi aku menemukan buku “Kuantar Kau ke Pintu Gerbang” Kisah Cinta Bung Karno dan Ibu Inggit. Makin pusinglah kepalaku. Lalu teringat sahabatku, Guri, pernah merekomendasikan sebuah buku yang masih kusimpan catatannya di ponselku. 

“Larutan Senja” oleh Ratih Kumala. Baiklah kucoba cari. Ternyata buku Ratih Kumala yang ada hanya satu buah. Berjudul “Tabula Rasa”. Kubalik beberapa halaman awalnya. Menarik, pikirku. Maka aku meminjam buku itu (pada akhirnya) dan Danti meminjam sebuah buku berbahasa Inggris tentang Road Trip. 

Saat aku berkeliling disana, aku berjumpa dengan Mba Theo, kemudian kami berbincang sebentar. Rupanya kata Danti, spot tadi tempat Mba Theo duduk menghadap taman adalah tempat favoritnya tiap ke Kineruku. “dia pernah nge-twit tentang spot itu, Fan”. Wah pantas saja, nyaman sekali sepertinya, hehe. 





Saat membayar buku pinjaman di kasir, aku menggumam kecil mengikuti lantunan Mayer Hawthore dan Payung Teduh yang kebetulan ter shuffle di laptop meja kasir. Sedikit iseng kucari kartu pos di deretan CD music, hingga kutanya pada Mba penjaga kasir (yang cantik sekali seperti Tessa J ) apa mereka jual kartupos. Ternyata ada! tapi dibundel dan berisi beberapa kartu di dalamnya. Oke boleh juga untuk referensi beli kartu selain di Reading Lights, walaupun kuakui di Reading Lights koleksinya lebih banyak pilihan, hehe. 

Maka setelah menenteng buku di tangan aku dan Danti meninggalkan Kineruku untuk menjemput ibu Danti. Sungguh sore yang menyenangkan, tidak hujan dan angin berhembus pelan. Terima kasih Danti atas ‘kencan sore’ nya dan sampai berjumpa lagi, Rumah Buku! 



Senin, 11 Juni 2012

polos

Vi, kini aku tahu siapa aku. Aku dilahirkan sebagai batu tulis kosong. Aku tabula rasa, aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup. Aku tak pernah menyesalinya. Aku tak menyesali jalanku.

Halaman terakhir dari buku yang kubaca selama kurang lebih 2 minggu itu membuatku merinding. Setelah hanyut dalam cerita kompleks dan memberikan kejutan di setiap bab nya akhirnya cerita Galih, Krasanaya, Violet, dan Raras berakhir pagi tadi. Pagi saat aku membuka mata untuk melanjutkan bacaanku yang tertunda tadi malam. 

Saat halaman makin menipis di genggaman tangan kananku pertanda cerita akan usai entah kenapa aku sedih. Saat baru mulai membaca kembali dan dipertemukan dengan buku karangan Ratih Kumala ini hasrat membacaku seolah penuh. Yang tadinya kosong tak terisi, sekarang penuh bahkan minta diisi lagi dan lagi.

Minggu, 10 Juni 2012

Kamu seperti menara. Selalu dapat kulihat walau jauh dan di kerumunan orang.
- Tabularasa, Ratih Kumala kubaca Juni 2012

here there and everywhere

gengsi? nggak sih
malu? gak juga, udah biasa malu-maluin
trus? ya heran ajah, kok bisaaa yaa begini jadinya
-
tertegun, terhenyak, terjerembab dalam tanda tanya besar dikepala
bersikap baik dan berpikir positif, terbuka pada hal baru itu baik
tapi jangan beri hati & perasaan kesempatan untuk terlibat jauh disana
salah jika itu terlanjur terjadi pada kesempatan lalu
rupanya keriaan hippies yang kukagumi itu hanya cukup berhenti disana
jangan terlibat jauh hingga terpana
kemana? ke deskripsi fana yang orang itu coba buat
dan aku telan bulat-bulat
-
terus? sekarang gimana?
untung baru 2 minggu atau sial! sudah 2 minggu
persepsi keduanya sah saja kurasa
kadang malu sih (sedikit) soalnya aku gampang terbawa suasana
'mure' kalau kata anak jaman sekarang
tapi aku telah jatuh kedalamnya. jurang kepercayaan yang kutanam dalam dalam
sekarang aku merangkak keluar
mencari cahaya baru
yang menyengat kulitku lebih hangat
-
'terima kasih' hanya itu yang bisa kusampaikan padanya kala itu
entah untuk apa
untuk pelajaran hidup berharga
atau untuk luka mahal yang perih namun dapat kutertawakan 
-
lalu tulisan - tulisan impulsif itu mau kuapakan?
selalu itu yang kupikirkan setelah semua selesai
selesai selalu begitu cepatnya
mau kuhapus sayang, setiap kata terangkai dalam kalimat yang lekat akan rasa
mau kubiarkan maka pembaca akan tahu kisah - kisah sementara ini terlampau cepat berganti
seperti ada yang salah denganku
padahal iya
ah justru itu yang menarik, biarkan sang pemilik kepala mencipta berbeda dalam arti tulisanku yang begini-begini melulu
kenangan ini mahal harganya
dibaca berulang kalipun tetap menarik
paling tidak untuk kutertawakan kurenungkan dan kurasakan dari sisi yang berbeda
-
sekarang aku tahu harus bagaimana
tenggelamkan diriku pada halaman-halaman indah karya sastra
tengok lebih banyak lukisan dan ilustrasi seni di galeri
hentakkan kepala pelan mengikuti irama bunyi di kepala dan gigs kecil
pijakkan kaki mengikuti arah angin
temui semua sahabat yang dapat kupeluk erat dan kujawil kecil pipinya
kirimkan berita melalui kartu pada teman yang bahkan belum kulihat wajahnya
kerjakan skripsi supaya bisa pergi ke jogja
dan bersyukur penuh akan kehidupan setiap detiknya
nikmati kejutan yang bisa dibawa oleh siapa saja
-
sekali lagi terima kasih anda yang membuat pemahaman saya akan hidup naik satu tingkat karenanya
you may grab your life peacefully now
ciao!