tidak ada yang bisa diungkapkan saat saya berdiri dengan jarak satu meter setengah dengan melancholic bitch. terima kasih untuk lantunan cerita Joni & Susi yang menyayat nadi, hentakan kepala, dentuman jantung karena berdiri dengan posisi bersebelahan dengan sosok yang membuat saya harus berbagi konsentrasi sepanjang pertunjukan dan after taste yang masih belum hilang sampai sekarang.
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Selasa, 04 Juni 2013
Minggu, 14 April 2013
Pesta Rilis Album ‘Berjalan Lebih Jauh’ – Banda Neira
Bandung, 14 April 2013
Semalam sebuah café mungil di jalan
riau, Bandung disesaki pengunjung tumpah ruah yang ingin berbagi pengalaman
menjadi saksi pesta rilis Banda Neira. Dimuka café,saya langsung menuju satu
meja yang digawangi beberapa mahasiswi dengan ceria menawarkan totebag hitam
mungil bergambar sampul album. Saya menggeleng pelan, “CD nya saja Mba.” dalam
hati saya berjanji akan membeli totebagnya di kesempatan selanjutnya. Terutama
kalau dikeluarkan edisi baru dengan bentuk yang lebih besar. Rasanya payung dan
botol minum serta barang lain akan berhimpitan kalau menggunakan totebag
sekecil itu.
Sambil menggenggam CD seharga 35 ribu bersampul
gambar gitar dengan dominasi warna kuning, saya menyelip maju kedepan. Saya menyapu
pandangan sekeliling. Rupanya pribadi pribadi antusias itu tak mengenal gender,
pria-wanita, bahkan menurut saya rupanya didominasi pria. Sudut sebelah kanan
nampak wajah – wajah keluarga dari duo nelangsa asal Bandung, Universitas
Parahyangan, ini mendukung, hadir dari awal acara. Sudut sebelah kiri riuh
rendah oleh hysteria kawan seperjuangan dari KKBM Unpar, SORGE Magz dan Media
Parahyangan. Lambat kemudian saya tahu, produksi dan segala keperluan pesta
rilis album ini didukung penuh oleh tiga badan tersebut yang kemudian menjadi
SORGE RECORDS. Salut. Ketika kepercayaan dan impian dapat berjalan beriringan
mewujudkan yang sebelumnya tak terbayangkan menjadi nyata, hadir dan dapat
dinikmati bersama malam itu.
Selepas opening act dari Rusa Militan
dan Deugalih & Folk, penonton tak kuasa menanti suguhan utama. Kelakar Rara
‘Harusnya Banda Neira yang jadi band pembuka Rusa Militan dan Deugalih &
Folk, nih. Mereka barusan keren sekali.” menjadi pencair suasana. Terlihat Rara
Sekar & Ananda Badudu excited
sekaligus deg-degan. “Aku pikir yang datang hanya 30 orang, keluarga dan teman
– teman dekat saja, taunya ramai sekali”. Yap, rupanya dukungan akan duo yang
beru berumur setahun ini sudah begitu mendapat tempat bagi banyak orang. Ketika
ayah - ayah dari Nanda & Rara didaulat maju kedepan, mereka terlihat bangga
dan mendukung kegiatan bermusik Banda Neira. “Tuh, ibunya Nanda tiap hari muterin
lagu Banda Neira”. Begitu ucap ayah dari Nanda. Saya berpikir, keluarga menjadi
inti dari semua karya yang dicipta. Maka dari itu, lahirlah lagu “Di Beranda”.
Haru selalu dirasa setiap mereka menyanyikan bait terakhir dalam reff “Kita
berdua tahu, dia pasti / Pulang ke rumah”.
Sebelum Banda Neira naik menyapa
pengunjung, diputarkan beberapa video dokumentasi perjalanan bermusik mereka.
Menarik, selain bermain di beberapa acara, ada pula video sesi latihan. Latihan
yang unik, digelar dimana saja. Taman Suropati Jakarta, Warteg dan gang di
menteng, musholla di Bogor bahkan rumah sakit di Bali. Jarak yang memisahkan
nampaknya jadi gimmick yang dapat
dilalui oleh Banda Neira dengan meninggalkan banyak cerita. Rara yang bekerja
sebagai pekerja yayasan Kopernik di Ubud dan Ananda yang menggeluti kerasnya
Jakarta dalam profesinya sebagai wartawan Tempo nyatanya dapat menghadirkan
lagu – lagu melalui siasat jitu. “Nanda biasanya kasih ide dan dikirim melalui
email. Ra, frak banget nih Ra. Dikirimkannya lah. Aku lalu timpa dengan recorder handphone. “ Rara menjelaskan
metode unik mereka dalam membuat lagu.
Lagu – demi lagu dinyanyikan oleh Rara
& Nanda. Nomor – nomor dari EP mereka ‘Di Paruh Waktu’ memenuhi ruangan; Di
Atas Kapal Kertas yang menjadi pembuka, Ke Entah Berantah yang bikin pengunjung
cewek menjerit “Bawa aku tersesat, Nandaa”, Esok Pasti Jumpa (Kau Keluhkan)
dengan irama yang catchy serta Rindu yang merupakan musikalisasi puisi Subagio
Sastrowardoyo sebagai pesan pengingat rindu & pengharapan begi keluarga
penghilangan paksa yang ditinggalakan, menghadirkan koor dari penonton.
Lagu-lagu baru mereka juga rupanya
sudah menjadi track favorit, seperti Di Beranda mengalun lirih. Dialognya nyata
bercerita kegundahan orang tua yang ditinggal anaknya keluar rumah, bekerja
atau kuliah. Kisah Tanpa Cerita juga dengan mulus dibawakan oleh Banda Neira. Petikan
gitar Nanda membius penonton. Track Senja di Jakarta yang disebut – sebut belum
pernah dibawakan sukses menjadi kejutan. Nadanya yang ceria menceritakan
perjalanan pulang kantor Rara sore hari di Jakarta, sempat membuat perdebatan
batin bagi Nanda. “Wah lagunya terlalu ceria nih, Ra. Gak Banda Neira banget.
Kurang nelangsa.” begitu ‘protes’ Nanda. Seluruh pengunjung tergelak. Rara
dengan lincah memukul riang xylophone dan membunyikan bel sepedanya di lagu
ini.
Nomor penutup malam itu jatuh dengan tepat
kepada Berjalan Lebih Jauh. “Bangun, sebab pagi terlalu berharga / Tuk kita
lewati dengan tertidur” cocok menjadi soundtrack di pagi hari. Pesan untuk
berjalan lebih jauh, menyelam lebih dalam, menjelajah semua warna nampaknya
menjadi landasan album ini. Tak ayal terpilih menjadi judul dari album pertama
Banda Neira. Sepakat. Titik klimaks muncul saat Nanda menarik kabel gitarnya
dan mantap masuk ke barisan penonton. Petikan gitarnya makin semangat. Nanda
meminta pengunjung bediri dan menyanyi ‘Bersama.. ‘ bait terakhir dalam lagu ini.
Suasana riuh rendah oleh tepukan dan
wajah sumringah. Selepas Berjalan Lebih jauh, rupanya pengunjung meminta
encore. Tahu saja mereka, masih ada satu nomor yang belum dibawakan.
Mengalunlah Hujan di Mimpi. Syahdu dan membius. MC mengambil alih mic,
mengisyaratkan pesta rilis album Berjalan Lebih Jauh - Banda Neira telah
mencapai penghujung. Rekan, sahabat, keluarga maju untuk memberi selamat.
Selamat untuk Banda Neira. Tetap
menginspirasi dan menjadi duo nelangsa yang ceria juga ya.
Salam,
Fanni
Yudharisman
Review : Answer Sheet : Chapter 1 ; Istas Promenade
Sebuah pengantar yang menarik
disuguhkan Answer Sheet pada track sekaligus judul dari album kedua mereka
Chapter 1 : Istas Promenade. Petikan yang diulang seperti gending jawa
ditelinga saya. Alunan yang naik dan mendadak
ramai di tengah lagu, menjadi klimaks track tanpa syair berdurasi 3 menit 14
detik ini. Cukup terasa emosi di klimaks tadi.
Track kedua dimulai dengan kalem oleh Mas
Gilang Karebet, Wafiq Giotama dan Abdullah Haq. Tangan saya sibuk membuka
lembaran lirik lagu ini. ‘Hills of A Rabbit Face’, penuh tanya, ada apa di
tebing muka kelinci? Sepertinya seru sekali.
‘upon the hills of rabbit face / down
to the mediternean lake / is that you inside the cave / don’t stop”
Menjelang akhir lagu, suasana mendadak
riuh dengan kencrungan (istilah untuk genjerengan ukulele) yang upbeat, kecrikan,
harmonisasi vokal dari mereka dan tepukan tangan semangat mengiringi intro
sekaligus nada catchy pamungkas dalam lagu ini. Saya tak kuasa turut dalam koor
‘wo o owo o-o’ . langsung melekat di benak saya. Lagu yang menarik.
Satu hal reflek yang saya lakukan
ketika mendengar ‘The Pleasant Drink of United Ink” adalah menggoyangkan kepala
dan setengah badan saya kekiri dan kekanan. Solo part gitar di tengah lagu
setelah reff membuat saya mengkaptur suasana vakansi. Vakansi yang cukup unik,
ditilik dari liriknya yang ternyata cukup dark. Saya ikut bernyanyi di bagian
reff : Are We? Are We?
“wah agak deep nih suasananya”, batin
saya sambil melirik judul lagu keempat. Oalah pantes, A ‘Regretful Season’
berkumandang dengan kencrungan dan nyanyian yang lebih lirih namun mencoba
menyampaikan pesan untuk mendapatkan yang
lebih “ look to the sky / you’ll find something more”. Melodi favorit saya
pada saat emosi naik di lirik ‘on that intersection / I turned left…” setelah itu
percepatan tempo dan koor berulang ‘a regretful season’ menutup lagu.
Setelah mengharu biru. ‘Stay Leave’
memberi saya banyak pertanyaan bahkan pilihan. Untuk tetap tinggal atau pergi.
Trio ukulele asal jogja ini cukup apik mengemas naik turunnya irama. Terlebih
di lagu ini. Intro seperti berada di negeri dongeng, kencrungan yang semangat
dan bagi suara di beberapa part.
Sumpahnya saya merasa bodoh karena
bertanya pada Resqi, ‘ini lirik A Girl From Kyoto’ yang gak ada apa cd gue
kebagian yang cacat nih, di blok item gini liriknya’ Ternyata wahai sodara –
sodara, memang lagu ini tanpa lirik. Seperti di track pertama. Tapi entah
kenapa tanpa lirik pun Answer Sheet selalu bisa memberikan alunan yang lebih
fokus untuk didengarkan. Setiap petikannya dan kesederhanaannya. Malah
terdengar sedikit mistis dengan kehadiran gadis dari Kyoto itu. Entah apa ada
hubungan khusus dengan salah satu dari ketiga pemuda Answer Sheet? Hmm.
‘Riverside’ itu curang. Sudah hadir
duluan di koleksi lagu saya. Dia adalah single pertama dari album ini. Selain
sudah akrab di kuping, juga membuat persepsi saya sedikit melenceng. Saya kira
tipikal lagu di album ini akan semi ambience kool kalm dengan sentuhan
elektronik. Ternyata hanya di Riverside ini. Mengecoh tapi menarik untuk konsep
band ukulele. Tak terbayang akan ada nada elektrik digabung dengan kencrungan
manis. Kyaaa
Rayuan ala hawai dengan sedikit
backsound deburan ombak di awal track pasti membuat wanita yang mendengarnya
luluh dan memberikan senyum yang diminta. Paling tidak, saya akan melakukannya.
Satu lagi referensi lagu untuk rujuk dengan pasangan. Ajak pasanganmu ke
pinggir pantai dan nyanyikan lagu ‘One Last Smile’. Dalam dua menit empat detik
pasti sudah kembali mesra.
Saya pikir deburan ombak ini berlanjut
ke track selanjutnya. ‘A Love Beach, Sadranan’ rupanya menjadi destinasi saat
hubunganmu sudah menghangat seperti sengatan senja di ujung reff “I’ll take you
there, one again” dilanjutkan dengan siulan.
Ah, please take me there. Keras – keras saya menyanyikan “this is the
place where I’m goin to…” mbok ya ada yang ngajak. Huft.
Lagu penutuk bertajuk ‘Replaced’
didaulat menjadi penutup keseluruhan perjalanan ke Istas promenade. Diakhir
lagu diselipkan semcam teaser. Dengan nada yang lucu mirip pertunjukan sirkus.
Jangan salahkan saya yang berpikir di chapter 2 nanti Mas Gilang Karebet, Wafiq
Giotama dan Abdullah Haq akan bertandang ke sebuah pagelaran sirkus dan
mengajak saya, anda, kita semua. Terima kasih untuk perjalanan ke Promedealm
nya, Answer Sheet. Salam hangat untuk Istas, semoga ia tidak kedinginan
mengkencrung ukulelenya di dalam Higloo. Cheers!
Langganan:
Postingan (Atom)