Tampilkan postingan dengan label exhibition. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label exhibition. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 April 2013

ARTE ARTE AKU NEKAT

ARTE AKU DATAAAAAANG

Begitu sorak saya dalam hati saat mobil travel yang hanya terisi tiga orang penumpang itu melaju pasti meninggalkan gerbang selamat datang di kota bandung. Perjalanan lancar dan saya selalu tertidur, entah kenapa. Serasa di ayun- ayun. Sampai di pool travel melawai saya dijemput pepe, si artis stand up pacar kembaran saya yang siap sedia saya repotin di Jakarta. 

Malang tak dapat ditolak untung sodaranya paman gober. Baru jalan sebentar ban belakang motor pepe kempas. Wuaduh, rencana berubah. Terpaksa kami nangkring dulu di bengkel tambal ban dan pepe skip rapat tedxjakarta. ‘gak bakal keburu pan, langsung jcc aja yuk’. Sip deh sebelum ke jcc, kita ngisi perut dengan semangkuk gulai. Nyum, katanya pepe sih tempat tongkrongan anak 70. Gaul bet deh, idung saya kembang kempis.

Sampe jcc, kita ngebut masuk plenary hall. Sudah terhampar penonton yang duduk sila manis manja menunggu payung teduh meneduhkan hati diteriknya Jakarta sore itu. Ternyata panitia ARTE ini patut ditiru dalam hal ontime. Jam 3 teng payung teduh menyapa kita dari atas panggung. Mendadak panggung penuh kehadiran 5 mba cantik backing vocal dan 1 peniup terompet. Suaranya makin mirip yang di recording, ada terompetnya sayup sayup gitu kan.







Saya dan pepe duduk di tengah sing along disemua lagu (kecuali lagu baru Mari Bercerita dan 1 lagu baru lainnya ; belom apal soalnya). Tapi saya sih sepaham sama Is, penontonnya pada jaim. Saya sama pepe udah bacot aja masih sepi, cih. Beda banget sama bandung. Tuh kan naluri kebandungan saya berkobar. Bagian favorit pas Dini Budiayu nyanyiin Malam, beuh baru pertama kali denger Dini nyanyi dan langsung aja saya mention doi; You Should Come to Bandung! Dibales : I Should! (cie saya ge er).

Lanjut sama Float. Saya dan pepe mengamati kerumunan abegeh bubar, berganti dengan angkatan (lumayan) tuwir yang meringsek mendekati panggung. Haha minimal seumur kita kita deh (siape woy). Seru! Terakhir nonton Float gak se full band dan se semangat ini mereka mainnya. Apa pengaruh saya pake topi kebalik ya? 


 Dibuka dengan video teaser Float2Nature sukses bikin saya niat nabung buat nonton mereka live I alam tanggal 2-4 November 2013 ini. Oia yang seru selain tempo yang lebih rapat dari payung teduh, adalah drummer nya. Cewek, keren banget mainnya. Meng sampe berkelakar juga, ‘pelan pelan dong, tembolok gue sakit nih cepet banget nyanyinya’ haha sukses bikin penonton ketawa. Seluruh lagu favorit saya dibawakan dengan ciamik, apalagi untuk tembang andalan Surrender, Sementara dan 3 Hari Untuk Selamanya. Playlist hp saya juga dibawain, Ke Sana dan I.H.I. Perjumpaan dengan Float ditutup oleh Pulang, dan gak dikasih encore. Huaaa. 






Setelah serah terima antara Pepe & si anying Resqi, maka saya menghabiskan malam minggu di ARTE dengan seorang pemuda tanggung berbadan tipis berkumis seiris dan ber ransel TDS warna merah. Pake adegan jambak topi saya lagi pas lagi nonton Pure Saturday! Tapi seru juga nonton gigs sama si Resqi. I’ve been dreaming of it, Res (geleuh). FYI, Resqi ini dedengkot Travel Thru Mixtape (kalau kamu pembaca setia blog akuh pasti kamu tau dia siapa; penting). Beres jam setengah Sembilan saya dan Resqi disibukkan dengan prahara saya mau pulang kerumah siapa. Momon apa Jinbo (dua orang sohib gank dari SMP) akhirnya perdebatan dimenangkan oleh Momon yang super baik jemput ke TVRI gegara si Resqi gak apal daerah Tanah Abang.

Besoknya demi jalinan Tali Kasih, saya, Resqi dan Raras sepakat nonton TTATW di ARTE jam 1 siang. Raras sama sektenya, biasa deh Raras gituloh. Saya sama Resqi duduk agak mojok sebelahan biar digosipin padahal saya kan jodohin mereka (melenceng jalur pembicaraan). Setelah nonton TTATW yang penuh dengan eksperimental akhirnya kita foto – foto biar bisa dipandangi dirumah dikala malam. Melankoli deh pokonya. ARTE nya sih overall keren band nya, waktunya ontime, yang dateng rame, tapi belum aja Roman Foot Soldiers. Taun depan datangin yah panitia!!!! 






Udah gitu random banget saya dan pepe kenalan sama Ananda Badudu & Rara Sekar nya Banda Neira. Dapet bocoran launching mereka di Siete tanggal 13 April ini. Okesip pasti dateng. Haha untuk pameran instalasi karya nya masih kerasa feel di pameran bandung sih menurut saya, tapi begitu MC bilang ini kegiatan pertama ya nda apa dimaafkan. Tapi karya yang sudah dikurasi ini semua menarik dan bagus, Cuma feelnya aja saya udah biasa di bandung ini di Jakarta (terus kenapa) jadi lebih feel ke nonton music performance daripada menghayati pamerannya. Semoga tahun depan makin kece, makin banyak karya seni yang ditampilkan. Sukses ARTE 2013

Foto puter puter ria di ARTE :















Sabtu, 08 September 2012

Blues In The Art

Setelah merengek rengek si Finna, akhirnya kita sampai ke Galeri Kita di jalan Riau. Saya sudah mendapat informasi acara ini dari twitter dan poster. Sampai di venue, kami berkeliling di lantai 1 yang memamerkan foto foto dokumentasi dari yang punya hajat “Bandung Blues Society”. Akang akang ramah yang stand by di front desk gak bosan mengingatkan untuk naik ke lantai 2. “di lantai 2 lebih banyak koleksinya, Teh.”




Oke siap meluncur, naik ke lantai 2. Kondisi galeri yang jarang dipakai membuat agak sedikit lembab dan tidak beraroma fresh (sama aja ye haha). Sampai di lantai 2 saya dan finna langsung cling melihat tembok dipenuhi dengan piringan hitam collectible items. Langsung pingin joget Gangnam Style (bisa juga ngga).
Quotes hari itu “Foto sama vinyl lebih berharga dari foto sama artis”
Sekian.


Quotes itu menjelaskan adegan selanjutnya yang dipenuhi dengan kegiatan mengabadikan vinyl yang terdapat dalam 2 ruangan dan satu lorong di lantai 2. Ada saru ruangan lagi yang menampilkan beberapa stage fotografi yang cukup menarik. Namun setelah menganalisis kilat, dapat saya simpulkan bahwa kegiatan Blues In The Art dengan tagline ‘8 days journey into the deep’ yang diselelnggarakan oleh Bandung Blues Society, CLiD Design & Art Production ini sangat bagus! Setiap harinya jadwal kegiatan padat dengan coaching clinic (keyboard, gitas, harmonica) dan pagelaran musik. 




Saya yang baru mengenal music blues dibuat terkesima dengan betapa event ini dirancang dan dilaksanakan dengan dedikasi tinggi dari teman teman komunitas. Suasana yang timbul akrab dan tidak ada batasan. Semua sama duduk mengampar beralas Koran ketika tadi malam saya datang pada pagelaran music dengan tajuk HARP POWER : KEEP ON BLOWIN’. Kang Hari Pochang sang ‘dewa harp’ dengan sangat humble mengajak kawan kawan Bandung Harp Project untuk naik dan bermain bersama diatas panggung. Sungguh pemandangan yang membuat hati saya berdesir. Makin menggebu – gebulah keinginan (impulsif) saya untuk belajar main harp! Haha.




Malam yang menyenangkan. Pukul 10 malam acara berakhir. Pengunjung yang datang dari berbagai range usia (banyak cowo cowo muda seksi yang hadir juga! Slurp!) dipastikan sangat puas akan pertunjukan malam itu. Rangkaian acara dari tanggal 1-8 September ini sungguh harus diselenggarakan lagi di tahun depan. Sukses untuk panitia dan teman – teman Bandung Blues Society!

Rabu, 18 Juli 2012

15x15x15

Jadi ukuran sebatas 15x15x15 akan menjadi benang merah dalam pameran ini? Gumamku dalam hati. Deretan nama seniman yang tercantum dalam spanduk di muka Galeri Soemardja ITB membuat hatiku bersorak kegirangan. Banyak sekali, konon karya yang akan dipamerkan berjumlah 60 buah. Menunggu sejak pukul setengah tujuh malam rupanya tak jadi soal buatku yang memang datang terlalu awal.




Setelah dibuka dengan penampilan akustik dan sambutan ketua panitia serta kurator, pukul 8 pengunjung dipersilahkan masuk. Ini bukan kali pertamaku memasuki galeri soemardja tapi aku selalu bersemangat. Mengetahui tata pameran yang memanjakan mata, berbaur dengan para seniman pembuat karya dalam pameran dan pengunjung lainnya (masih mayoritas mahasiswa FSRD ITB). 







Ragamnya media dan teknik yang digunakan oleh para seniman membuat tak henti hentinya aku mengomentari dan menjepretkan kameraku kearah karya. Perputaran mengelilingi galeri yang sejatinya tak begitu luas itu seperti menghentikan waktu sesaat.
Tak terasa disela perbincangan hangat dengan beberapa kawan yang dijumpai menyadarkanku akan malam yang tiba tiba sudah larut. Pukul 9 malam aku berpamitan dan berjalan meninggalkan pameran 15x15x15.





Disinilah seharusnya teman temanku bertandang, mengapresisasi karya dan memantikkan semangat untuk membuat langkah kecil perubahan. Selain menikmati waktu untuk bersosialisasi tentunya. Salam hangat.