Rabu, 02 Mei 2012

aahh~

watching peoples happy
gives you the happiness though
event if you see your ex-crush give a light forehead kiss to his girlfriend
and you still smile watching it
weird, but true.
at least it happens to me.

or another case.
scrolling timeline
smell some 'love in the air'
ta-da! your (another) ex crush is madly in love with this artsy chick; his equal hipster level
suddenly i pray the best for them
that's love gives you
happiness that not even you including in it
but its still makes you smile
a big one
suddenly 'someone like you' Adele doesn't sounds so desperate
its full of wishing
'i wish nothing best the best for you.. two!'
happy loving each other, lovebirds!
i still love watching them, from here 
it gives me real example that love is belongs to everyone
even the hurt one too
and its feel no pain at all
cheers!

can't feel my own feet part 3820

syukur alhamdulillah beberapa hari ini saya dikasih kesempatan untuk tidak mengembangbiakan kegalauan di malam hari. karena hampir setiap malam saya harus tidur cepat belakangan waktu ini.
mulai dari ikut bantu jaga booth HGL Delicacies di Trademark selama 4  hari, nonton ESPOSE nya anak unpad yang bikin sukses kaki mati rasa, dan terakhir 2 hari jadi Marshall di Jabar Travel Exchange.

semuanya seru! di HGL Delicacies Trademark bisa belajar buat burger & sandwich yang lejattt sambil melihat beraneka ragam kaum urban. bisa menyalurkan hobi baru saya juga, impulsive buyer. ya, anda benar. apabila anda mengenal saya seutuhnya anda akan mengerutkan dahi.
fanni si pelit ini rupanya mulai insaf. gak pelit lagi tapi sekarang boros. gak tauk saya kerasukan apaan. jadilah saya di hari terakhir trademark ikutan kalap belanja padahal belum gajian -_-

lanjut hari ketiga di Trademark rupanya saya juga harus menghadiri Espose karena udah janjian sama Rieka Roeslan buat lompat lompat pas nyanyi Dahulu. sebagai pribadi yang bersahaja saya menepati janji walau harus misuh-misuh gak kebagian nonton Remedy lantaran telat dateng. malam itu keringat terkuras dipersembahkan oleh The Groove yang dari namanya aja udah nge groove. Gugun and the blues shelter juga berhasil membuat saya berhimpitan dengan cowok - cowok yang manggut-manggut sepanjang lagu. saya juga manggut. anak gigs sejati walau belum familiar dengan lagunya, tetap menikmati dan mengapresiasi #sikap
intinya seharian ber-boots ria, abis jadi mbak burger di trademark lalu gak leyeh istirahat di sabuga gara-gara takut ga kebagian tempat di depan panggung sukses bikin jempol kaki dkk cenat - cenut.
tapi ada satu kejadian yang membuat saya menyadari satu hal dalam diri saya.. 
saya selalu jatuh cinta sama cowok yang gak malu buat 'nikmatin' musik di acara gigs. cuek aja headbanging, nyanyi, tepok tangan paling kenceng walau sekitarnya kebauan ketek gara-gara doski angkat tangan mulu tepok tangan.
saya yang cuma liat punggungnya langsung jatuh cinta. ya itu kesalahan epic saya. epic fail kalo kata anak sekarang mah

lalu hari terakhir jaga di trademark, pulangnya ada meet up TEDxBandung di Reading Lights. langsung amazed. tempatnya enak, pewe, jadul, penuh buku, dan yang paling penting... jualan postcard! kyaa langsung heboh. tapi lantaran abis belanja di trademark jadi cukup ngiler dulu deh. tapi janji bakalan balik lagi dan beli postcardnya. saya kebagian oleh-oleh unyu dari Radix yang balik dari TEDxSummit di Doha.

nah setelah hectic weekend, lanjut ikutan Jabar Travel Exchange di Hotel Panghegar selama 3 hari.
hari kedua parah tuh. pake seragam & hih heels kan. ga punya yang teplek pula sepatunya. jadilah muter-muter assist guest sambil sesekali meringis ngeluarin kaki. tapi asik kok assist guest malaysia, singapore sama arab. jadi 'dipaksa' ngoceh english. lumayan latian conversation gratis hehe.

oiaa hampir ketinggalan, saya dan finna juga dateng ke Launching EP nya 70's Orgasm Club di Loubelle Shop! seru sekaleeh! itu penampilan keren nan haru, secara mereka bertiga main untuk yang terakhir kalinya justru saat mereka launch EP. huks, padahal mereka mainnya maksimal deh aah~
beruntung jadi yang bisa menyaksikan perform live 70s Orgasm Club! Yeah!

nah beres JTX hari ini baru bisa bernapas sedikit lega. walaupun ujung-ujungnya ngurusin dagangan juga hehe. tapi yaa lumayan jadi lupa kalo perlu tati tayang *hoek*
maka kita rayakan dengan nonton serial Revenge! seru deh, lumayan nunggu episode HIMYM yang baru :p

jadi ada baiknya sebelum tidur saya akan mengelus-elus betis, merangsang jempol kaki dan memanjakan kelingking yang beberapa hari ini kejepit. pake counterpain aja cukup lah ya, ga usah manja! #eh

ini foto-fotonya. kali aja penasaran


 Trademark




TEDxBandung - Reading Lights









JTX - Panghegar Hotel








 70's Orgasm Club EP Launch

Selasa, 24 April 2012

My 1st short story!

Getar ponsel meyadarkan aku dari tidur. Masih sambil memicingkan mata, tanganku berusaha meraih ponsel di ujung tempat tidur yang akupun lupa kenapa bisa terpental kesana. Potongan kejadian tadi malam sekelebat muncul dalam benak. Ranting pohon yang dibasahi rintik hujan, bau tanah dan bunyi gesekan daun yang aromanya serasa masih menempel di ujung hidung. Perlahan kuhirup udara. Bagaikan kepingan puzze dan sekotak teka – teki menyeruak dari pikiran.
-
Kuraba ujung tampat tidur, meraih ponsel yang tergelatak manja disana. Kacamata dengan gagang hitam tebal kesayanganku mengambil peran untuk kemudian menajamkan pandangan samar – samar yang akupun masih malas untuk membuka mata.
Jam berapa sekarang? Kulirik cepat layar ponsel dan membaca angka yang tertera disana. Masih pukul 6 pagi rupanya. Dengan gerakan pelan aku membaca kembali pesan singkat yang masuk tadi malam.
“Ini salah, Kiran. Kita tak seharusnya melakukannya.”
“Kita harus bicara esok hari”

Sambil menghela nafas kutinggalkan ponsel diatas meja dan menuju kamar mandi. Baru kulangkahkan kaki keluar dari kamar mandi, rupanya ponselku berdering.
“Kenapa Bi? Masih pagi kok ini. Belum ngerjain tugas Pak Idris? Yaudah nanti ketemu di kantin kampus sebelum masuk ya.”
Dengan tak bergairah aku nyerocos, tidak memberi kesempatan pada Obi, sahabatku untuk bicara.
“oia sekaligus ada yang mau aku certain.” Sambungku
“whoa tenang Ran. Pagi – pagi udah nyerocos aja. FYI gue udah dibawah nih sarapan sama nyokap lo. Cepetan turun. Nasi goreng tante hari ini enak bgt. Iya kan tan?”
Suara jenaka Obi dengan cepat ditimpali oleh ibu,
“Biasa Bi, si Kiran kalau mandi lamanya kaya putri keraton. Udah kita duluan aja,”


..to be continued

Behind The Scene #TEDxBandungWomen

Seperti biasa saya bingung harus mulai darimana. Masih terasa euphoria kemarin. Sekaligus pegel nya masih terasa di betis, haha. Oke kita mulai mundur ke dua bulan yang lalu.

Setelah selesai TEDxLive di ITB bulan Maret, saat closing evaluasi organizer saya mengajukan untuk membuat Ngariung selanjutnya dengan tema yang lebih spesifik. Sudah sempat menjadi perbincangan kecil-kecilan diantara organizer perempuan untuk mencoba mengadakan TEDxWomen. Dimana kita sangat terobsesi membuat TEDxWomen. Kenapa? Simple alasannya. Karena di TEDx Indonesia belum pernah ada yang membuat (ceritanya mau jadi pioneer, gaya :P ) dan memang dirasa menyenangkan apabila nanti di bulan April kita merayakan Hari Kartini dengan membuat Ngariung bertema wanita. Ya TEDxWomen inilah. Maka setelah mendapat persetujuan Radix dan teman-teman organizer lainnya, jadilah saya menjabat & mengemban tugas sebagai Project Officer. Yeah! Excited sekaligus nervous. Saya belum pernah jadi PO sebelumnya. Tapi saya yakin ada teman-teman yang siap membantu.

Setelah itu ‘perburuan’ speaker dimulai. Bisa dibilang hampir semua speaker adalah hasil ‘todongan’ saya.  Syukurlah orang – orang hebat ini mau berbagi di TEDxBandungWomen dimana saat-saat terberat bagi saya pribadi adalah menyampaikan bahwa mereka akan berbagi secara cuma-cuma alias tidak dibayar. Memang di TED memang sudah ketentuannya seperti itu. Cuma tetap bagi saya rasa ‘gak enak’ atau sungkan itu masih tetap ada. Walaupun kenyataannya mereka menyambut tawaran ini dengan semangat dan mendedikasikan waktunya selama 2 bulan untuk saya ‘bawelin’ mengarahkan materi yang akan mereka sampaikan nantinya. Seperti memiliki keluarga baru. Saya punya kakak-kakak yang sangat baik dan supportif. Teh Tanti, Teh Ari, Mba Nana dan Mas Eko. Tidak lupa adik kecil dengan prestasi besar, Medina Savira. Dengan keterbatasan waktu dan kesibukan para speaker, diskusi lebih banyak dilakukan melalui email dan BBM. Salut sekali, mereka terbuka untuk melakukan diskusi, tidak ragu bertanya mengenai guidelines TED dan menyesuaikan isi materi dengan batasan-batasan yang ada.

Oia sempat menjadi perdebatan konflik ketika ternyata jumlah speaker dirasa terlalu banyak untuk sebuah event Ngariung yang biasanya hanya 2 orang speaker. Apalagi dengan batasan waktu yang ada. Tapi dengan dukungan, kepercayaan saya dan teman-teman dibantu oleh Teh Nadya Saib yang sangat mendampingi semua proses dari awal, saya yakin bahwa kita bisa menampilkan semua speaker luar biasa ini.

Loh kenapa tiba-tiba ada Nadya Saib? Teh Nadya adalah perempuan muda dengan prestasi luar biasa yang juga mantan Speaker Ngariung bulan Agustus TEDxBandung. Jadi Teh Nadya yang juga owner Wangsa Jelita, kita propose untuk menjadi sponsor. Setelah setuju jadi sponsor utama, Teh Nadya selalu mendampingi dan memberi arahan untuk persiapan TEDxBandungWomen ini. Sekaligus merekomendasikan Mba Nana untuk menjadi speaker. Terima kasih banyak Teh Nadya dan Wangsa Jelita.

Kemudian obsesi untuk menghadirkan makanan unyu berupa cupcake untuk audience pun terlaksana berkat bantuan Teh Nadya juga yang membantu follow up ke pihak WP Bites. Terima kasih banyak Mba Bunga Asmara dan WP Bites. Semua langsung jatuh cinta dengan Dwarf Cupcakes Red Veltet nya! Nyum!

Pemilihan venue juga akhirnya jatuh pada Gedung Indonesia Menggugat. Selain TEDxBandung belum pernah menyelenggarakan Ngariung disana, suasana GIM yang asri, lengkap dengan nilai historis dan fasilitas yang memadai membuat kita menjatuhkan pilihan venue kepada GIM.

Obsesi lainnya hadir pada keinginan saya untuk menampilkan performance. Tidak cukup hanya dengan deretan panjang speaker (4 sesi, 5 speaker) saya berhasil meyakinkan Mba Theoresia Rumthe yang sudah akrab di dunia twitter dengan akunnya @perempuansore untuk menjadi opening act dan membacakan karya narasinya. Saya yang personally nge fans pun kegirangan ketika Mba Theo bersedia! Yeay! Riky juga berjasa menghadirkan Merina, seorang ballerina yang sudah terampil menari ballet hingga sekarang menjadi guru di sekolah ballet nya. Wah saya langsung senyam-senyum sendiri membayangkan satu persatu kepingan ‘ide gila’ saya mulai terwujud. Hehe

Kemudian perjalanan menuju #TEDxBandungWomen ini juga mengalami ‘Up & Down’ selain karena saya harus membagi konsentrasi dengan skripsi dan urusan kuliah, ternyata organizer banyak yang tidak bisa membantu secara penuh dikarenakan kesibukan masing – masing. Terlepas juga sisi internal bonding team organizer TEDxBandung yang perlu di re-built agar solid kembali dengan integritas yang bisa dipertanggungjawabkan. Pada kesempatan #TEDxBandung Women ini akhirnya saya juga meminta banyak bantuan kepada teman- teman volunteer.

Jujur saya orangnya gampang panik dan cemas. Jadi ketika misalnya harus mengurus surat pemberitahuan pemakaian GIM ke kepolisian saya sempat cemas hehe norak yah. Lalu ketika dilemma diri sendiri yang merasa menanggung beban tanggung jawab besar sebagai PO melanda. Rasanya takut kalau event pertama TEDxBandung Women ini tidak berjalan maksimal akan menjadi catatan buruk untuk saya sendiri. Tapi untuk itu saya juga bertekad selalu melakukan yang terbaik dan menganggap terlaksananya TEDxBandung Women nanti sebagai self achievement sebagai pembuktian pada diri saya sendiri bahwa saya bisa.

Setelah meet up rutin, intensif dan penuh dengan proses pembelajaran, hari H semakin dekat. Dipilihnya tanggal 22 April yang jatuh pada hari minggu semoga bisa menjadi pilihan tepat. Setiap rapat selalu saya biasakan untuk berdoa untuk kelancaran, sharing dan pendekatan personal kepada seluruh anggota. Harapan saya, stlye kepemimpinan yang saya terapkan bukan untuk menjadi seorang pemimpin semata tapi menjadi sahabat untuk semua organizer & volunteer yang bertugas. Sebisa mungkin saya membantu dan mengingatkan tugas mereka agar tidak ada yang terlewat. Jatohnya memang saya bawel sih, coba ditanya ke organizer & volunteer. Hehe.

Semua kerja keras terbayarkan saat hari H kegiatan berjalan lancar, kursi penuh bahkan harus menempatkan kursi tambahan. Senyum puas terlihat di wajah speaker dan audience. Rasa pusing dan pegal karena seharian muter –muter bak gansing rasanya impas. Saya selalu bertanya pada teman- teman team sepanjang acara, “Apa ada kendala? Apa yang bisa dibantu? Cari saya kalau ada apa-apa” ya intinya saya ingin semua sesuai yang sudah direncanakan. Keriaan selama berlangsung acara bisa disimak melalui tagar #TEDxBandungWomen.

Saya akui persiapan yang cukup membuat TEDxBandungWomen hampir tampa cela. AV Tech yang menjadi objek vital tidak menemui kendala, flow acara ‘dapet’ alurnya. Audience dibuat kagum sekaligus gemas dengan tingkah polah Medina Savira, si penulis cilik berbakat, yang khas anak-anak. Tanti & Arie dari OYHS juga sukses membuat kita terhenyak dengan pertanyaan ringan seputar pentingnya mimpi, cita-cita dan kreativisme yang semakin langka. Mba Nana ‘Galenia’ menyuguhkan materi Gentle Birth yang masih cukup ‘awam’ di telinga audience. Video proses kelahiran water birth pun membuat suasana haru biru. Mas Eko kemudian menutup rangkaian speaker dengan gerakan Women Self Defense nya yang sangat atraktif. Dengan memboyong teman-teman komunitas WSDK, suasana venue menjadi riuh rendah oleh teriakan ‘ciaattt!’ khas beladiri yang langsung dipraktikan bersama seluruh audience. Sungguh alur yang sempurna bagi saya. Semoga membekas dan menjadi kenangan yang berkesan bagi audience TEDxBandungWomen.

 
 Medina Savira @medinasavira


 Ardhana Riswarie @ardhanariswarie @oy_h_s

Tanti Sofyan @tantisofyan @oy_h_s

  
Krisna Adiarini @Nana_2211 @Galenia_MCC


 
 Mas Eko Hendrawan @ekolomoh @wsdkID



  


 praktik langsung gerakan Women Self Defense

Acara resmi berakhir pukul setengah 5 sore. Nampak sebagian audience masih betah di dalam venue. Ada yang open discussion ‘PDKT’ sama speaker, makan snack yang disediakan, foto-foto pake sign “I Support TEDxBandung Women” dan gak lupa ambil minum pake tumblr masing-masing. Kita kan ngerayain Hari Bumi juga loh! Hehe. 
 
 Thanks our speakers! we're so honoured :) 

 Full seated!

 Open space discussion athmosphere

 My fabulous team! You guys rock!


 
 
Amanda Merina, the beautiful balerina @amandamerr


our wall of ideas!

 quiz time!

 registration desk :)

 grab ur Red Velvet Dwarf Cupcake from lovely @WPbites



 Gedung Indonesia Menggugat



 diwawancara Kita TV nih :) 

 nyanyi Indonesia Raya sebelum mulai acara

 We all support #TEDxBandung Women!!

Setelah beres – beres saya mengumpulkan semua team organizer & volunteer untuk closing & evaluasi kecil –kecilan. Sekaligus saya berterima kasih dan meminta maaf apabila masih banyak kekurangan. Syukurlah teman-teman sepertinya puas dan tidak terlalu banyak evaluasi. Bahkan Agoes pun bilang “keren”. Pingin direkam rasanya *lebay* hehe Baiklah, sejarah baru di TEDxBandung telah ditorehkan, saya jadi punya keluarga baru lagi. Teman – teman volunteer sudah saya anggap organizer juga. Tinggal PR untuk bonding team dan pembenahan internal TEDxBandung sebelum menuju TEDxBandung conference oktober nanti. Terima kasih dan sampai jumpa di TEDxBandung Women berikutnya!