Selasa, 04 Oktober 2011

meet up with dede!

peaceful




#selfpotrait

Kompas Kampus






#Akademi Berbagi Bandung with Ita Sembiring





TUNZA 2011 w/ @BdgBerkebun & @IDBerkebun








# 6 : taman kanak-kanak ; memoar tangan kiri

aku masih ingat saat poni dora ku setiap minggu pagi dipotong ayah di garasi belakang rumah. saat seragam ungu nan lucu itu dilengkapi dengan topi sailor berwarna senada tak lupa ransel berhias kelinci mungil ditengahnya.

bersama saudara kembarku kami menuju sebuah taman kanak-kanak ditengah komplek ABRI
sambil menggenggam erat tangan ibu di kanan kiri
kami berlari menghampiri dan menyapa pagi

aku masih ingat saat aku diminta maju ke muka kelas oleh ibu guru
diminta menulis beberapa huruf baru
eh, kok ya tangan kiri ku yang mengalun pasti
tapi tak ada yang memarahi
sejak itu aku sadar aku menulis dengan tangan kiri
tak apa yang penting aku bisa berkreasi sesuka hati

pelajaran favoritku adalah membaca dan menggambar
biarkan saja teman-teman mengejar kodok di kolam depan, asal jangan diberikan padaku.
nanti bisa gempar

aku tak suka berebut mainan, lebih baik berceloteh dengan teman
bahkan aku sudah mulai suka-sukaan.
dasar kekanakan

segala keriaan khas taman kanak-kanak selalu membangkitkan romansa
dimana semua yang lugas dan sederhana terasa
aku jamin manusia dewasa merindu akan fase itu
sekarang yang ada hanya nafsu dan deadline yang memburu

ah, taman kanak kanak selalu menjadi kenangan yang bermuara
walaupun berbeda kota, aku masih dapat jelas mendengar bunyi bel nya
bahkan kolam pasir dan menu makan pagi di hari sabtu :)

kepada yang terkasih



biarlah teruntuk suratku ini masih menyisakan spasi kosong
karena aku tidak yakin benar akan mengalamatkannnya pada siapa
dibalik itu keinginanku untuk menyampaikan rasa sayang ini tak tertahankan

kepada yang terkasih,
saat matahari menyentuh lembut kulitmu
memaksamu memicingkan mata pertanda matahari telah meninggi,
biarlah aku tetap berpura-pura terlelap disampingmu
biarlah aku tetap bergumul dibawah lenganmu yang hangat

kepada yang terkasih,
saat akhirnya kita membuka mata
inilah saatnya aku memandang sejuknya telaga dalam tatapan matamu
tatapan yang membuatku berkata "hari masih pagi" padahal matahari sudah menyengat tinggi
aku yakin kamu merasa saat aku mencuri cium pipimu di saat kau masih terlelap
ya paling tidak, aku tak pernah bosan melakukannya

kepada yang terkasih,
hariku seakan lebih dari 24 jam sehari
lebih dari 7 hari seminggu hanya untuk menemanimu asik main game dan aku menunggu disebelahmu dengan gemas sambil baca buku
hujan yang turun tiba-tiba terkadang ku syukuri dalam hati
bisikan lembutmu ditelingaku masih bisa kurasakan sampai saat ini

kepada yang terkasih,
spasi kosong ini ingin rasanya ku isi
tapi aku tak mau mengisinya dengan harapan asa
dimana aku tak tau aku menyimpan banyak rasa untuk siapa
bisa untukmu, bisa untuk dia

kepada yang terkasih,
sesungguhnya aku hanya ingin engkau ada

reality bites!

setelah sok bingung mau nulis apa, akhirnya saya kembali pada 'jalur' cerita yang saya sangat kuasai. yaitu... curhat :P
haha maafkan blog saya isinya nyampah. tapi saya merasa sangat prima menulis ketika emosi saya membuncah. baik emosi positif atau negatif.

yang berikut mau saya ceritakan, jujur saya sendiri masih bingung antara emosi positif atau negatif, well just called it REALITY. loh kok?

iya nih pemirsa, saya baru saja berbalas pesan singkat dengan BMAK. dimana tadi siang saya sudah sempat bertanya pada dia yang kebetulan mau pergi keluar.
iya, saya kepo. jadilah saya bertanya dia pergi dengan siapa.
walaupun saya sudah bisa mencium gelagat dia akan menutupinya.
dia cuma bilang sama teman. begitu saya tanya dengan 'iyo atau sello yah?'
dia jawab bukan.
nah ini bagian yang saya benci ketika menjadi mantan pacar.
ketakutan yang tidak beralasan
nah tadi pas saya coba klarifikasi lagi, ternyata menurutnya bukan.
dia cuma pergi dengan teman SMA nya, yaa ada teman perempuannya sih.
nah itu yang jadi tanda tanya. sekaligus tanda seru.

tanda tanya adalah siapa? dan sedekat apa?
tanda seru adalah yasudahlah! dan terima saja!


well, once again reality bites, buddy..

Senin, 03 Oktober 2011

#5 hilang : tentang rasa

padaku, ini perihal sebuah rasa.
yang bisa dibilang tidak menyenangkan bagi siapapun.
untukku, rasa ini kadang muncul di malam hari dan menyelinap dalam sanubari.
membuat diriku yang seharusnya sudah terlelap, tetap terjaga hingga hari berganti.
tidak ada yang dapat kuminta pertanggungjawaban atas rasa ini.
sulit untuk mengendalikan diriku sendiri.
jemariku kadang nakal dan tak mau mengalah.
ia bergegas menulis rasa itu menjadi untaian pesan singkat dan tanpa pikir panjang langsung dikirimkan kepada seseorang berkilo-kilo meter jaraknya.

rutinitas selama tiga tahun itu masih terasa nyata.
gelaknya, suaranya, sentuhan bahkan deru nafasnya.
kalaupun ada yang berubah, itu nyata adanya.
tapi masing masing hati diciptakan tidak bakat berdusta.
walau kadang ia tidak bersuara lantang, lirih ia berkata.
dan aku masih cukup jelas mendengarnya.

betapa ia rindu.
betapa ia benci rasa itu.
ya, rasa kehilangan yang amat sangat.

sekarang tinggal bagaimana aku melewatinya.

hilang itu bukan kami yang mencipta.
sebenarnya dia tetap ada, bahkan menjaga.
tapi tidak dengan seksama ditunjukkannya.
biarlah, biar rasa hilang itu tetap ada
agar kami tidak lelah mencari.

hilang kebersamaan bukan berarti hilang kepedulian.
hilang toh nanti akan ada yang menemukan.

dengan dipisahkan jarak berkilo-kilo meter jauhnya,
semoga ia masih bisa merasa.
ketulusan itu selalu ada untuknya.
kerinduan itu nyata disetiap paginya.